301 Matching Annotations
  1. Last 7 days
    1. amoeba

      ilustrasi amuba ini bagus sekali. terima kasih.

    2. loncatan besar

      ini juga subyektif tergantung dengan wawasan. wawasan tergantung kepada bacaan. bacaan tergantung juga oleh infrastruktur, selain tentunya oleh kapasitas pribadi.

      kenapa subyektif?

      karena kita tidak tahu seluas apa sebuah wawasan yang luas itu.

    3. kontribusinya adalah ke pengetahuan

      kontribusi orisinil/asli menurut saya adalah kontribusi yang betul-betul lahir dari diri sendiri dengan dasar pengetahuan dari penelitian yang sebelumnya.

      tapi kontribusi kepada pengetahuan bersifat subyektif, sangat bergantung kepada wawasan. suatu riset dapat dipandang memiliki kontribusi signifikan oleh orang yang berwawasan luas, tapi mungkin tidak demikian bagi orang yang berwawasan sempit. atau malah sebaliknya.

      sekarang, seberapa luas wawasan yang disebut luas? kita tidak tahu juga batasannya. bisa saja wawasan luas merupakan kombinasi atau gabungan antara wawasan seseorang dengan orang lain atau gabungan wawasan komunitas.

      intinya ini bersifat subyektif. jadi tidak perlu terlalu menonjolkan bahwa hal ini bersifat obyektif, karena memang tidak obyektif.

    4. kontribusi yang orisinil

      bagian ini sulit, karena kontribusi orisinil sering ditafsirkan sempit. hal ini juga bersifat subyektif.

    5. bahwa menulis adalah bagian dari profesi kita bahkan mungkin ada yang seneng nulis di luar profesi menjadi hobi desain seperti itu kira-kira ya Jadi kita ketemu titik simpulnya menulis

      Setuju. Menulis adalah bagian dari profesi dosen dan peneliti. Tapi yang disebut menulis harus dirafsirkan luas. Saat ini kolega dosen mayoritas menghubungkan aktivitas menulis hanya dengan aktivitas menulis makalah jurnal. Kenapa? karena memang itu saja yang sering digembar-gemborkan.

    1. builds upon existing intellectual property systems and fosters

      ini sangat berkaitan dengan berbagai dokumen non makalah (misal salindia, poster) menggunakan lisensi terbuka (open license)

    2. co-creation of knowledge,

      co-creation >> sementara kalau di indonesia lebih ingin jadi yang pertama dan yang satu-satunya. niat untuk mendukung cocreation ini kurang kuat melihat niat dan minat untuk membagikan dokumen secara lengkap menggunakan lisensi terbuka.

    3. Also recognizing the importance of the existing international legal frameworks, in particular on intellectual property rights including the rights of scientists to their scientific productions

      (mohon koreksi) di indonesia sepertinya baru ada UU HKI, tapi belum ada penjabarannya khusus untuk dokumen atau karya atau ciptaan terkait dengan riset akademik.

    4. ny transfer or licensing of copyrights to third parties should not restrict the public’s right to immediate open access to a scientific publication.

      penting ini. kalaupun terjadi transfer hak cipta, maka penerbit tidak boleh menghambat hak publik untuk mengakses publikasi ilmiah dengan segera.

    5. it builds on the following key pillars: open scientific knowledge, open science infrastructures, science communication, open engagement of societal actors and open dialogue with other knowledge systems.

      penerbitan makalah di jurnal open access jelas hanyasebagian kecil saja dari lima pilar kunci: open scientific knowledge, open science infrastructures, science communication, open engagement of societal actors.

    6. promoting international and multi-stakeholder cooperation

      international cooperation dan reducing digital/tech/knowledge gaps, salah satunya dapat ditangani dengan penggunaan perangkat lunak terbuka serta platform terbuka, bukan platform proprietary/komersial.

    7. aligning incentives for open science

      perlu dipahami bahwa insentif untuk open science bukan hanya insentif untuk publikasi secara open access.

    8. exchange of publications, objects of artistic and scientific interest and other materials of information

      "... exchange of publications ..." >> bukan hanya berkaitan dengan publikasi akses terbuka (open access) dan bagaimana kita dapat bertukar pengetahuan dan pengalaman di luar konteks sempit dunia publikasi.

    9. Committed to leaving no one behind

      ini penting. untuk tidak meninggalkan siapapun. dalam hal ini ini, para pembuat kebijakan di indonesia harus pula memperhatikan keberagaman situasi pendidikan di indonesia agar tidak meninggalkan siapapun di belakang.

    10. Considering that more open, transparent, collaborative and inclusive scientific practices, coupled with more accessible and verifiable scientific knowledge subject to scrutiny and critique, is a more efficient enterprise that improves the quality, reproducibility and impact of science, and thereby the reliability of the evidence needed for robust decision-making and policy and increased trust in science,

      ini bisa menjadi prinsip berbagai aplikasi terkait tridarma yang dibuat oleh pemerintah indonesia dan harus diisi oleh para dosen.

    11. in Africa, least developed countries (LDCs), landlocked developing countries (LLDCs), and small island developing States (SIDS)

      inilah masalah global. artinya riset yang dilaksanakan di wilayah-wilayah tersebut (oleh warga negaranya atau orang asing) adalah riset global.

    12. Promoting international collaboration on metrics for open science

      ini juga tidak akan berhasil baik ketika yang menjadi target tetap publikasi pada jurnal tertentu. jadi ujungnya tetap saja universitas-universitas LN yang dianggap top akan tetap di atas, sementara yang di bawah akan tetap di bawah (Matthew Effect).

    13. Such strategies could focus on strengthening the nexus between science, policy and society, increased transparency and accountability

      disebutkan secara eksplisit transparansi dan akuntabilitas. dua hal itu tidak ada hubungannya dengan penerbitan hasil riset di jurnal-jurnal tertentu.

    14. The monitoring of open science should be explicitly kept under public oversight, including the scientific community, and whenever possible supported by open non-proprietary and transparent infrastructures.

      "... supported by open non-proprietary and transparent infrastructures" >> di sini perlu diperhatikan bahwa monitoring tidak disarankan didukung oleh infrastruktur komersial (yang pastinya tertutup/proprietary). Di sini disebutkan "bila memungkinkan/whenever possible", saya yakinkan kita sudah bisa melakukan itu tanpa minta bantuan atau membeli layanan komersial.

    15. multi-stakeholder approach

      "... multi stakeholders approach" >> ini penting, karena sains di Indonesia mayoritas dibiayai oleh negara atau lembaga nirlaba, jadi sudah menjadi kewajiban untuk memasukkan pemangku kepentingan di luar para saintis. Salah satu tujuannya adalah membuka hasil riset ke publik seperti diamanatkan oleh UU Sisnasiptek.

    16. Collecting and disseminating progress

      "collecting and diseminating progress..." dapat diterjemahkan dengan menggunakan perangkat yang telah ada (misal: repositori kampus dan Repositori Ilmiah Nasional) dengan memenuhi prinsip F.A.I.R (Findable, Accessible, Interoperable, and Resuable).

    17. Deploying appropriate monitoring and evaluation mechanisms

      rekomendasi pertama: membuat instrumen monev untuk implementasi sains terbuka pada level nasional di negara masing-masing. >> ini akan dan telah terbukti juga menggunakan layanan komersial.

    18. investing in open science infrastructures and services

      ini yang kita lemah. Alih-alih berinvestasi ke infastruktur dan layanan terbuka, kita malah sibuk membeli infrastruktur dan layanan komersial. Itu kenapa saya pernah membuat gambar, ketika daya beli (layanan akademik) meningkat, kita malah tergantung ke layanan tertentu saja. Sebagai contoh, OJS adalah perangkat lunak yang paling banyak digunakan oleh jurnal se Indonesia. OJS dibuat oleh organisasi bernama PKP yang nirlaba. Organisasi ini mendapatkan donor dari pemangku kepentingan. Seberapa jauh pemerintah Indonesia atau lebih tepatnya perguruan tinggi peduli dengan hal tersebut. OJS adalah satu contoh kecil saja.

    19. importance of narrowing the STI and digital gaps existing between and within countries and regions,

      ... narrowing the gaps existing between and within countries and regions, ... >> Jadi kalau Anda menilai sebuah makalah (untuk sebuah jurnal nasional) karena tidak punya dampak secara nasional, maka Anda keliru, karena Anda justru akan menjauhkan kesenjangan antara wilayah di Indonesia. Demikian pula kalau makalah yang Anda kirim ke jurnal internasional "bereputasi" ditolak gara-gara makalah Anda hanya membahas Indonesia secara spesifik, maka Reviewer tersebut yang harus sekolah lagi. Bukan Anda.

    20. Acknowledging the vital importance of science, technology and innovation (STI) to respond to these challenges by providing solutions to improve human well-being

      ... human well-being ... >> bukan personal glory

    21. Recognizing the urgency of addressing complex and interconnected environmental, social and economic challenges for the people and the planet

      tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi UNTUK MANUSIA DAN PLANET >> itu kenapa tidak relevan lagi menolak penerbitan makalah karena hanya membahas kawasan yang spesifik saja. Apapun yang Anda bahas selama itu terkait dengan kehidupan manusia, maka itu akan memiliki dampak global.

  2. Nov 2021
    1. The pressure is still on – how should we be teaching the current content to the current students in the current context and how does this impact on research?

      current content, current students, current context

    2. t interweaves the three strands which build staff (through research) – students (through the T&L) – and the community (through both).

      the 3 strands

    3. Teaching in a University is different, we use the same word in primary school, secondary school, TAFE, Teachers Colleges, CAEs etc but it is not the same. One of the major differences is of course the extent to which it (the teaching) is interwoven with research and our research principles.

      teaching in univ is diff >> interwoven with research

    4. I believe that this concern with Research Culture is due to broader effects that are manifestations brought about, by and large, by the extraordinary commoditisation of Higher Education in general.

      research culture >> broad effects

    5. This type of academic activity is vital to our research (and not only to the research); it is something that I will be pursuing.

      mentoring is vital

    6. A good mentoring program promotes understanding of the culture of the University and helps staff adjust to new or changing roles and situations.

      mentoring program >> bukan hanya masalah luaran dan metrik

    7. I believe that until we understand what a research culture is and why it is important, that

      intertwined teaching and research >> homogeneous research culture.

    8. We will no longer discuss research; we will be too busy doing it – and talks such as this, will no longer be necessary.

      terlalu banyak meriset >> tuntutan luaran >> jarang diperbincangkan

    9. the moment we stand still, that is fail to keep learning, fail to keep cultivating, our knowledge and experience falls behind the status quo.

      fails to cultivate >> stand still in the moment >> stagnant >> status quo

    10. Most general, the term culture denotes whole product of an individual, group or society of intelligent beings. It includes technology, art, science, as well as moral systems and characteristic behaviours and habits of the selected intelligent entities.

      culture >> tech, art, science, moral systems, etc

    11. Culture (from the Latin cultura stemming from colere, meaning "to cultivate"),

      to cultivate >> menumbuhkan >> membudidayakan >> tanpa perintah >> tanpa insentif?

    12. The essential characteristic of research activity is that it leads to publicly verifiable outcomes which are open to peer appraisal.

      publicly verifiable outcomes >> how can we do that?

      and open for appraisal >> how?

    13. Research and experimental development comprises creative work undertaken on a systematic basis in order to increase the stock of knowledge, including knowledge of man (sic), culture and society, and the use of this stock of knowledge to devise new applications.

      systematic basis >> creative work >> increase the stock of knowledge >> new applications

    14. The final strand is knowledge transfer. It encompasses many dimensions of interaction between academia

      tahap berikutnya adalah transfer pengetahuan kepada masyarakat yang lebih luas.

    15. The second strand is Learning and Teaching. It explicates a body of ideas, is informed by available research, and instils habits of inquiry that reflect the provisional nature of knowledge

      dari penelitian menuju kelas untuk disampaikan kepada mahasiswa.

    16. Research is the first strand (note the first is research), embracing the systematic generation of new knowledge, development of new ideas and experiment with new techniques.

      Tridarma perguruan tinggi >> penelitian, pendidikan, transfer pengetahuan. >> bukan pengabdian kepada masyarakat.

    1. it is designed to help institutional leaders reflect on the extent to which their organization can support sustained and values-driven assessment practices, and where they might focus efforts to further evolve them.

      SPACE to support sustained and values-driven assessment practices.

    2. SPACE is a rubric that is composed of two axes

      adaptation to Indonesian institutes

    3. prioritize rankings over their stated goals for diversity, equity, and inclusion

      prioritize rankings over other missions

    4. the metric oversimplification of scholarly achievement distracts academics and institutions

      metric oversimplification >> distractions

    5. Rather, it is due to a growing reliance on proxy measures of research quality in the management of recruitment, promotion, tenure and funding decisions: these proxy measures are widely used because they are convenient, not because they are meaningful. The pursuit of a higher ranking in league tables for universities has also contributed to the problem.

      proxy measures >> convenient but not meaningful

    6. Ghent University in Belgium made headlines in 2019 when it announced a new policy for evaluating faculty that marked a shift away from the 'rat race' of metrics and rankings towards more holistic processes focused on valuing and nurturing talent

      notice >> rat race

    1. SAL KHAN: Right, exactly. ELON MUSK: Because for sure failure is one of the possibilities. But, ideally, you want to try to bracket it and say success is in the envelope of outcomes. And I wasn't quite sure if that was the case. I think success on an academic level would have been quite likely, because you can publish some useless paper--

      Kalau Anda Elon Musk, Anda bisa bicara apa saja. :) Tapi memang mendekatkan sains agar lebih dekat dengan aplikasi memang sulit. Apalagi kalau sejak awal produk yang menjadi target ya hanya makalah :) https://youtu.be/vDwzmJpI4io

  3. Aug 2021
    1. Lalu ada pernyataan banyak orang: kalau kita publikasi ke jurnal internasional maka kita hanya memperkaya penerbit asing. Informasi ini didapat dari mana ya, karena menerbitkan makalah di jurnal internasional adalah gratis. Yang berbayar adalah kalau kita terbitkan di jurnal yang open access. Kita pilih jurnal berlangganan dari Elsevier, Springer, Wiley, Sage, ACS, dan lain-lain yang semuanya gratis!

      Sebenarnya model manapun yang kita pilih (OA atau nonOA), itu hanya masalah siapa yang membayar. Kalau non OA, yang membayar akses adalah pembaca. Kalau OA, yang membayar penulis. Walaupun ada lebih banyak jurnal OA yang tidak menarik biaya dari penulis, perlu diakui bahwa yang berprestise adalah jurnal OA yang dibayar, khususnya untuk kebutuhan naik pangkat.

      Itu baru dari sisi siapa yang membayar biaya penerbitan.

      Nah sekarang. Model manapun yang Anda pilih, pasti ada uang masuk ke penerbit. Sekarang, tergantung jenis penerbitnya. Ada yang nirlaba dan ada yang komersial. Kalau yang komersial sudah jelas ya. Sudah disebutkan oleh Pak Mikra secara jelas.

      Sekarang untuk penerbit nirlaba, lembaga biasanya berupa asosiasi atau perguruan tinggi.

      Ada asosiasi/perguruan tinggi yang secara mandiri mengelola jurnalnya. Jenis ini biasanya akan menarik biaya penerbitan yang rendah atau tidak sama sekali. Namun demikian "biaya rendah" nya jurnal asosiasi LN pasti ya lebih mahal dibanding jurnal asosiasi/perguruan tinggi DN.

      Ada pula asosiasi/perguruan tinggi yang menyerahkan pengelolaan jurnalnya ke penerbit komersial. Konsekuensinya bisa ditebak biaya penerbitan makalahnya menjadi mahal.

      Kemudian pandangan yang bilang bahwa jurnal LN reviewnya bagus, sepertinya perlu dikoreksi. Memang mungkin reviewnya bagus, karena diberikan oleh para reviewer yang bisa jadi lebih berpengalaman dari penulis. Tapi mari kita pikirkan lebih panjang. Para reviewer itu kan juga peneliti sehari-harinya. Lantas kenapa mereka memposisikan diri seorang perintah review hanya bisa diberikan oleh jurnal.

      Kalau separuh peneliti di dunia setuju untuk mereview secara bebas tanpa harus via jurnal, maka ilmu pengetahuan akan makin cepat berkembang. Karena pada dasarnya mereka ini kan bukan pegawai jurnal. Kok mau dimintai waktu berpikir tanpa mendapatkan bayaran dengan fakta bahwa pihak jurnal menarik biaya yang mahal dari penulis atau pembaca. Sementara pada kesempatan lain, untuk melaksanakan tugas kampus seringkali ingin minta dibayar.

    2. Saya menyelidiki secara random beberapa jurnal nasional yang terindeks di DOAJ dan didapati bahwa banyak pengelolaan yang tidak akurat. Banyak ditemui kesalahan pada makalah yang telah terbit: referensi yang tidak lengkap, self citation yang tinggi, format penulisan yang tidak sesuai dengan standar penulisan jurnal ilmiah, mutu riset yang rendah (setara dengan praktikum di sekolah menengah), bahasa Indonesia yang tidak sesuai, bahasa Inggris amburadul, dan lain-lain.

      terima kasih. memang begitu adanya, kenapa? karena mereka (jurnal-jurnal) itu dikelola oleh tim relawan. kalau ingin profesional yang bayar atau danai operasionalnya. Pengelolaan yang paling tepat adalah secara nirlaba.

      Kenapa?

      Jelas harus nirlaba, khususnya untuk hasil riset di Indonesia, karena mayoritas penelitian Indonesia dibiayai oleh pemerintah.

      Bagaimana bisa uang dari stakeholder (sains/akademik), yaitu negara, dikirimkan ke para pemegang saham (shareholders).

      Jadi jangan terlalu naif dengan hanya menghubungkan fakta bahwa model non OA tidak menarik biaya, maka komersialisasi tidak terjadi.

      Uang yang kita bayarkan (baik sebagai penulis atau sebagai pembaca) pasti akan masuk ke kas keuangan yang pada akhirnya akan mengikuti kemauan eksekutif perusahaan dan para pemegang saham.

    3. hanya fokus pada penerbitan di jurnal nasional dibandingkan dengan jurnal internasional yang lebih menantang

      "lebih menantang" ini sangat subyektif. pernahkah kita berpikir bahwa para pengelola jurnal LN dan reviewernya memiliki bias kepada penulis Indonesia?

      Memang sebaiknya bukan jago kandang, tapi kalau mengirimkan artikel ke jurnal LN (baca: internasional) dengan alasan yang tidak tepat (apalagi kalau disebut lebih menantang), menurut saya jangan.

    4. Pertanyaan kita: apakah jurnal di Indonesia tidak terlalu banyak?

      sepertinya tidak ada kata "terlalu banyak" untuk membebaskan pengetahuan.

    1. Figure 23. The Frequency That NPEs Transferred Technical Knowledge in Addition to the Patent License, According to Respondents in the Computer Industry

      Grafik-grafik di ini adalah hasil utama.

    2. Based on our very preliminary evidence, the theory that NPEs facilitate innovation via patent license demands either through the creation of new products or by delivering actual technical know-how from inventors to implementers does not seem to hold water.

      NPE tidak berfungsi memfasilitasi inovasi.

    3. Patent trolls are the hottest topic of debate within patent law today.

      Jadi patent trolls di sini adalah Non Practising Entities (NPE), yaitu sebuah lembaga yang tidak menghasilkan produk (bukan industri) yang membeli paten yang kemudian dijual ke industri yang menghasilkan produk.

      Masalahnya, paten yang diperjual-belikan ini adalah paten yang berpotensi mengganggu pasar industri yang menghasilkan produk sejenis.

    4. A critical factual assumption that underlies this debate is whether patent licensing by trolls is in fact a mechanism for technology transfer to the licensees and the creation of new products, or whether a request that a company take a patent license is simply a means of collecting money in exchange for agreeing not to sue.

      Disadari ada praktek ini.

    5. Patent trolls—patent-holding entities that do not make any products but sue or threaten others with patent infringement—are the subject of intense debate.

      Patent trolls atau NPE sebagai middle man.

    1. The disclosure of the invention is an essential consideration in any patent granting procedure.

      disclosure -> patent granting

    2. Traditionally, IPR is divided into two forms: industrial property rights and copyright. In general, copyright is a legal term describing rights given to creators over their literary and artistic creations, while the term ‘industrial property rights’ refers to certain exclusive rights regarding innovative ideas or distinguishing signs in the industrial or commercial field.

      ini pembagian yang sudah tegas antara HKI dengan paten. Jadi Hak Cipta adalah hak yang paling mendasar, sementara paten ada di bawah Hak Properti Industri.

    3. The life cycle of technologies can be divided into stages – from invention, through research, development and dissemination (RD&D) and market development, to commercial diffusion.

      Memang aneh ketika siklus hidup teknologi didefinisikan secara seragam seperti ini, khususnya di bagian akhirnya, commercial diffusion.

    4. A patent may be a powerful business tool allowing innovators to gain exclusivity over a new product or process, develop a strong market position and earn additional revenue through licensing.

      Persis paten akan terkait dengan eksklusifitas yang prinsipnya adalah ketertutupan. Menjadi eksklusif adalah modal untuk mendapatkan pendapatan.

  4. Jul 2021
    1. Transformative agreement (TA) is an umbrella term used to describe contracts between institutions and publishers intended to transform the current, primarily subscription-based, journal publishing model to a fully open access (OA) model.

      Definisi penting untuk dipahami para pejabat negara yang ingin membuat TA (transformative agreement), dimulai dengan apakah TA, mengapa itu harus dilaksanakan, dan mengapa harus dilaksanakan bersama entitas tertentu.

    1. Open software such as dSPACE,

      Eprints kalau di Indonesia, juga ada Setiadi dll

    2. The second case is that of the PerúCRIS platform. It was first devised when Peru approved its Open Access Law in 2013.

      Peru OA law > google it

    3. CV system Plataforma Lattes

      SINTA?

    4. Examples include the Open Data Portal,

      repositori ilmiah nasional

    5. optimal conditions

      what do we have here?

    6. With a strong public imprint, these repositories acted as a springboard for the development of non-commercial open access environment that is today the hallmark of the region.

      non-commercial

    7. Latin America has a long tradition of using catalogues and libraries in the service of development. Since the 1960s, bibliographic indexes, repositories, and regional libraries emerged, managed by large public universities and regional institutions.

      What about Indonesia, when did we start all of this OA movement?

    8. They don’t have identifiers or permanent links to metadata – an indispensable element for sharing information.

      permenent links to metadata

    9. Citizens must be equipped with the same access to information as researchers, and scientists need access to high-quality, interconnected repositories of knowledge to advance our understanding of the world around us.

      interconnected repositories

  5. Apr 2021
    1. bagaimana peluang replikasi metode yang sama untuk daerah-daerah lain di Indonesia?

      • Metode yang disampaikan sangat rinci, sehingga anda perlu dipisahkan menjadi bab terpisah.
      • Banyak sekali model yang anda gunakan, akan bagus kalau ditelaah pendek kenapa itu dipakai.
      • Open source Matlab Toolbox sepertinya lebih tepat ditulis To simplify the WTC calculation process, we use the open source toolbox made in MATLAB by (author?)[27]
      • author? bisa diganti sebagai anonymous kalau memang tidak dapat ditemukan siapa nama penulisnya.
    2. Abstract: karena anda perlu memberi contoh untuk publik di indonesia, maka sepertinya dalam abstrak perlu disisipkan kata kunci "open source solution" atau "python" dan "open data".

  6. Mar 2021
    1. In Indonesia's case, government policies in recent years that geared the assessment for promotion to push academics to publish has succeeded in increasing the number of papers published by Indonesian scholars. Data from Scimago Country & Journal Rank shows that within five years between 2015 and 2019, Indonesia increased its output by more than 400%, from around 8,000 to 44,000.

      di satu sisi memang ini perlu dirayakan, tapi di sisi yang lain perlu ada pemikiran kritis ketika hasil riset yang awalnya diawali dengan masalah di masyarakat indonesia, tapi harus terbit di media di luar indonesia dalam bahasa yang tidak dimengerti secara luas, tanpa ada upaya langsung/tak langsung untuk menyebarkannya kembali ke masyarakat indonesia (asal-muasal riset dilakukan).

    2. Reputable journals such as Science and Nature sped up their peer-review process.

      sepertinya bukan hanya science dan nature yang melakukan hal sejenis. terlepas dari motivasi mereka untuk dapat mengakhiri pandemi covid secepat mungkin, tapi pastinya ada motivasi keuntungan yang ingin diraih.

    3. The Indonesian government should study and follow the DORA recommendation. By moving away from pushing academics to chase journal-based scores and creating a meaningful way to evaluate research, Indonesia will have a better chance of genuinely building and strengthening its research sector and take an active part in advancing science and providing solutions.

      ini bukan masalah sulit atau mudah tapi masalah mau atau tidak mau. tentunya perlu ada upaya kreatif untuk dapat menggunakan metrik dengan bertanggungjawab (responsible metric).

    4. The predatory journal market was estimated to be around $74 million in 2014
    5. these low-quality studies

      low-quality studies dihubungkan dengan jumlah sitasi yang rendah adalah kesalahan tradisi yang telah berabad-abad dijalankan oleh akademia.

    6. meaning they do not matter much.

      persepsi bahwa sitasi menunjukkan dampak atau arti dari suatu makalah, harus direvisi, karena di sisi lainnya, persepsi ini telah terbukti merusak kehidupan akademik. turunan dari persepsi ini adalah bahwa peneliti dengan jumlah sitasi (diwakili angka indeks H) yang banyak akan dianggap lebih bereputasi dibanding yang jumlah sitasinya sedikit.

    7. Unfortunately, hundreds of potentially predatory journals have infiltrated academic databases, such as Scopus.

      ironisnya, dalam setiap pertemuan dengan tim perwakilan elsevier, scopus atau tim pemasaran lainnya, penyebab tentang infiltrasi jurnal predatori ini tidak pernah ditanyakan.

    8. This work that helps spread knowledge and builds an informed public earns academics very little credit points in Indonesia. But publishing in journals indexed by international academic databases gives them plenty.
    9. They pocket the payment, an average of $178, an amount close to the basic salary

      jadi jurnal-jurnal LN (luar negeri/luar Indonesia) tersebut menargetkan para peneliti yang ingin naik jabatan (dan pendapatan) dengan menyediakan layanan penerbitan makalah secara cepat, sehingga cepat terbit dengan imbalan biaya rata-rata USD 178.

      Average APC price by publisher ranges from 246 to 2,851 USD. sustaining the knowledge commons

      sekarang mari kita bayangkan. dengan harga rata-rata APC antara 246-2851 USD (yang umumnya diterbitkan oleh penerbit LN yang telah berpengalaman), apa yang didapatkan dengan kemampuan bayar apc rata-rata 178 usd? mestinya tidak sama levelnya dengan jurnal-jurnal dengan kisaran APC rata-rata sesuai data kutipan di atas.

    10. preprints which means articles uploaded in an open-access platform that have yet been peer reviewed

      preprint dan bentuk-bentuk dokumen yang belum menjalani peninjauan sejawat memang sering dihubungkan dengan kualitas substansial yang tidak terkontrol. tapi perlu diingat juga, bahwa ada banyak artikel yang telah lolos peninjauan sejawat oleh jurnal tetapi kemudian harus ditarik (retracted), karena satu dan lain hal. artinya definisi peninjauan sejawat ini perlu diperluas, bukan hanya peninjauan sejawat yang dilakukan oleh jurnal, tetapi juga yang dilakukan oleh publik.

    11. career progressions, and therefore salary increase

      promosi pangkat (career progression) di Indonesia memang ditentukan salah satunya tapi kemudian berkembang menjadi satu-satunya oleh artikel yang terbit di jurnal yang masuk indeks scopus. dan karena pangkat naik, maka otomatis remunerasinya akan ikut naik.

      plus saat ini berbagai perguruan tinggi (termasuk dikti) sedang marak memberikan insentif bagi para dosennya yang berhasil menerbitkan makalah di jurnal kategori kuartil Q1 Scimago, contoh: ITB, Dikti, UII, ITS, UMPO.

    12. dubious journals

      dalam artikel tersebut yang dievaluasi dan hasilnya adalah dubious jurnal adalah jurnal yang telah masuk ke daftar scopus. jadi kalimat tersebut bukan berarti bahwa Indonesia adalah negara yang paling banyak menerbitkan jurnal nasional (terbitan Indonesia) yang meragukan (*dubious*). Namun demikian percakapan tentang predatory/dubious journal ini terus berkembang. Yang paling baru terbit adalah artikel ini dari Juneman Abraham (Binus),

    13. Vit Machacek and Martin Srholec
  7. Dec 2020
    1. Issues related to water management and water policy were presented at the beginning of this report.

      tantangan dan peluang ini ditulis pada tahun 1998 tapi masih sangat relevan di indonesia. penelitian hidrogeologi sudah saatnya masuk ke ranah yang lebih rinci, mengombinasikan metode kualitatif dan kuantitatif dengan komponen prediksi lebih banyak.

    2. Application of irrigation water to cropland can result in the return flow having poorer quality because evapotranspiration by plants removes some water but not the dissolved salts.

      kandungan garam dalam tanah mungkin bukan masalah utama kita, tapi itu masalah utama di kawasan kering, misal australia, karena sangat mengganggu pertanian.

    3. BIODEGRADATION

      bagian ini hampir tidak pernah ditelaah pada riset hidrogeologi. mungkin karena ilmu ini beririsan dengan ilmu biologi dan kimia. salah satu bukti bahwa riset multidisiplin jarang dilakukan. :)

    4. Two of the fundamental controlson water chemistry in drainagebasins are the type of geologicmaterials that are present and the length of time that water is in contact with those materials

      ini quote penting.

    5. Chemical reactions that affect the biological and geochemical characteristics of a basin include

      di sini dijelaskan berbagai proses utama (dan sering terjadi) pada aliran air di suatu cekungan (basin). proses-proses itu menghasilkan evolusi kimia air.

    6. Chemical Interactions of Ground Water and Surface Water

      di sini bagian yang menarik baru dimulai :D

    7. Wetlands in riverine and coastal areas have especially complex hydrological interactions because they are subject to periodic water-level changes

      halaman ini menggambarkan interaksi air di kawasan wetlands, rawa adalah salah satu contohnya. dalam hal ini ciri wetlands bukan hanya pada koneksi airnya, tetapi juga pada kondisi geologinya. kawasan wetlands akan banyak mengandung lapisan lempung, karena arus air yang tenang (ini hukum geologi LOL).

    8. Lakes can receive ground-water inflow

      gaining dan losing stream juga berlaku untuk danau.

    9. Surface-water exchange with ground water in the hyporheic zone

      di sini dijelaskan tentang posisi dan peran zona hiporeik. zona ini penting dalam interaksi antara air sungai dan air tanah.

    10. Where streamflow is generated in head- waters areas, the changes in streamflow between gaining and losing conditions may be particularly variable (Figure 13).

      di bantaran sungai akan terjadi fenomena gaining stream (air tanah keluar kemudian mengisi sungai) atau disebut juga sebagai efluen dan losing stream (air sungai meresap ke dalam akuifer) atau disebut juga sebagai influen.

      aktivitas sumur-sumur di bantaran sungai akan mengubah interaksi gaining stream dan losing stream tersebut.

    11. Withdrawing water from shallow aquifers that are directly connected to surface-water bodies can have a signifi- cant effect on the movement of water between these two water bodies.

      ini terjadi di bantaran sungai di indonesia. rumah-rumah di kawasan itu memiliki sumur yang lokasinya berdekatan atau sangat berdekatan dengan sungai, sehingga dapat dipastikan air sungai ikut tersedot ketika sumur tersebut memompa air tanah. interaksi air tanah dan air sungai terjadi lebih cepat di zona hiporeik, proses filtrasi (penyaringan) air tidak terjadi.

    12. The ground-water compo- nent of streamflow was estimated from a streamflow hydrograph for the Homochitto River in Mississippi,

      pengamatan time series seperti ini jarang dilakukan dalam penelitian-penelitian hidrogeologi di indonesia.

    13. Rises in stream stage can cause the direction of flow through the streambed to reverse and lead to bank storage

      sekali lagi. gambar skematik yang bagus. kekuatan seorang hydrogeologist adalah dari pemahamannya terhadap kondisi lapangan. pemahaman yang baik bisa diwujudkan dalam bentuk sketsa tangan atau sebaliknya dengan sketsa tangan kita bisa memahami alam dengan lebih baik.

    14. INTERACTION OF GROUND WATER AND STREAMS

      gambar model yang sederhana. akan bagus kalau kita dapat menggambarkan sendiri (walaupun hanya dengan tangan) interaksi yang sama di daerah kita.

    15. Concepts of Ground Water, Water Table,and Flow Systems

      ilustrasi yang sangat bagus untuk menunjukkan bahwa adanya sumur akan mengubah arah aliran air tanah secara makro.

    16. The success of efforts to construct new wetlands that replicate those that have been destroyed depends on the extent to which the replacement wetland is hydrologically similar to the destroyed wetland

      ini idealnya. pada kenyataannya sangat sulit untuk meniru (mereplikasi) alam.

    17. Wetlands can be highly sensitive to the effects of ground-water development and to land-use changes that modify the ground- water flow regime of a wetland area.

      ini berkaitan dengan isu reklamasi di daerah rawa (termasuk wetlands).

    18. Storage of water in streambanks, on flood plains, and in wetlands along streams reduces flooding downstream

      ini prinsip yang mungkin kebalikan dari apa yang sering kita lakukan, melakukan normalisasi sungai yang tujuan awalnya ingin mempercepat aliran air sungai dari hulu menuju hilir. caranya adalah dengan membuat dinding beton sepanjang sungai. sepertinya langkah ini melawan prinsip dasar yang disampaikan dalam alinea di atas. jadi ini isu normalisasi vs naturalisasi.

    19. These losses of water and delays in traveltime can be significant, depending on antecedent ground-water and streamflow conditions as well as on other factors such as the condition of the channel and the presence of aquatic and riparian vegetation.

      antecedent = preceding in time or order; previous or preexisting.

    20. Another form of water-rights accounting involves the trading of ground-water rights and surface-water rights.

      di sini ditekankan bahwa ilmu hidro(geo)logi hanyalah sebagian saja ilmu yang berperan dalam pengelolaan sumber daya air. ilmu lainnya (termasuk ilmu sosial ekonomi) sangat penting pula dipelajari untuk dapat mengelola air dengan lebih seksama. pendekatan multidisiplin penting.

    21. dissolved oxygen are altered

      ini persis terjadi juga di indonesia. banyak yang menyangka bahwa perubahan pH, TDS, DO adalah pengaruh dari geologi atau lingkungan fisik lainnya, padahal itu karena pengaruh dari permukaan yang pasti dipengaruhi oleh aktivitas manusia (antropogenik).

    22. Much of the ground-water contamination in the United States is in shallow aquifers that are directly connected to surface water

      ini juga terjadi di hampir semua kota besar di Indonesia.

    23. It has become difficult in recent years to construct reservoirs for surface storage of water because of environmental concerns and because of the difficulty in locating suit- able sites.

      terjadi untuk semua kawasan perkotaan. ketika kawasan lama sudah terlalu padat, maka kita mencari kawasan baru untuk dikembangkan. awalnya bagus, pada saatnya nanti akan padat juga dengan kualitas lingkungan menurun jauh dan mendekati kawasan yang lama.

    24. A Single Resource

      powerful title

    1. In comparison, patents for inventions and rights to trade secrets are property rights that encourage the creation of private knowledge

      persis! paten mendorong private knowledge

    2. Ownership of a scientific discovery is a special property right that encourages the creation of public knowledge.

      ini betul. tapi tetap saja ownership perlu didefinisikan ulang. definisi kita tentang kepemilikan ilmu pengetahuan saat ini cenderung membuat kita menutupi apa yang kita hasilkan. dan hanya akan mengumumkannya bila sudah terbit atau sudah jadi paten. perlu atau tidaknya paten sendiri untuk riset yang dibiayai negara perlu diuji lagi.

    3. Peer review is a mechanism that results in recognition from peers, which is a ‘hard currency’ in the scientific culture

      ini juga. peninjauan sejawat tidak selalu (bahkan mungkin sering) bersifat subyektif. bagi kita yang sudah pernah naik porsche, maka akan bilang suzuki carry adalah mobil primitif. tapi pemilik suzuki carry juga bisa bilang, buat apa pakai mobil balap kalau saya menggunakan mobil ini untuk mengangkut sayur dari kebun ke pasar.

    4. originality is an important mark

      originality memang sebuah tanda penting, tetapi harus diakui bahwa cara seseorang memandang originalitas akan berbeda-beda, apalagi kalau persepsi peneliti indonesia disamakan dengan persepsi peneliti asing. di indonesia mungkin riset-riset jenis tertentu adalah original, sedang bagi peneliti asing (yang tidak tinggal di indonesia) bisa jadi tidak. walaupun demikian, riset yang dinilai tidak original tersebut harus ditempatkan pada posisi yang layak, selama prinsip saintifik yang digunakannya benar.

    5. Confirmation of priority

      confirmatory of priority perlu. artinya kalau satu orang telah menemukan sesuatu, maka urutan prioritas perlu dicatat. tapi yang perlu diartikan ulang apakah satu orang itu adalah pemilik pengetahuan yang telah ia hasilkan? jelas jawabnya dia bukan pemiliknya.

    6. ownership

      perlu redefinisi ownership terutama karena mayoritas riset kita dibiayai negara.

    7. In such a reward system based on precedence, scientists compete to be the first even more fiercely than do athletes

      to compete harus didefinisikan ulang, juga analogi atlit

    8. Only things that have been verified can be regarded as scientific knowledge.

      data tidak pernah diminta di setiap hibah riset. kalaupun diminta, harus selalu dalam bentuk makalah.

    9. Be sceptical and critical.

      ini jelas tidak kita lakukan sekarang. semua orang cara berpikirnya sama. :)

    10. These values included in scientific culture guide outstanding people with high intelligence to discard vulgar values such as social status, reputation, wealth, comfort and ease, and to engage in laborious scientific undertakings.

      to discard vulgar values such as social status, reputation ... > sepertinya sekarang kita melakukan ini.

    11. Scientific culture came into being with the emergence of modern science and has developed in tandem with it

      di luar prinsip sains yang cenderung statis, tetapi cara kita melaksanakannya perlu berubah mengikuti perkembangan zaman.

    12. is crucial for the healthy development of science and technology

      healthy menjadi fokus juga

    13. of great importance for scientists to hold to scientific belief

      tanpa disadari ada banyak prinsip yang bertentangan dengan saintific belief.

    14. The public's understanding, acceptance and simulation of the scientific community's lifestyle is also an important part of scientific culture.

      persis. mestinya begini. sekarang apa yang telah kita lakukan untuk mencapai tujuan ini. tentunya tidak dapat dicapati hanya dengan menulis makalah di jurnal tertentu.

    15. It also refers to the wide spread and application of scientific knowledge, methods, values and ethical ideas in other social and cultural fields

      bagaimana ini bisa dicapai kalau yang kita ukur dengan gencar hanya di bagian hilir. dan itupun hanya makalah yang terbit dalam jurnal kategori tertentu.

    16. It is passed from generation to generation through customs

      budaya diturunkan, karena itu adalah tanggungjawab kita untuk menurungkan budaya yang benar.

    17. one of the criteria for the correctness of a new scientific theory or law is its reproducibility and verifiability

      reproducibility sering tidak terjadi. kalaupun terjadi, hanya berorientasi kepada permintaan jurnal tertentu agar penulis mengikuti panduan penerbitan makalah. reproducibility mestinya bersifat umum.

    18. solving problems, communicating and behaving

      persis. perilaku yang diharapkan bukan hanya diukur dari jumlah publikasi yang ditulis atau jumlah proposal riset yang diusulkan, tetapi juga cara memberikan solusi, cara mengkomunikasikan hasil riset dan perilaku saintifik.

    19. relatively independently from the influence of other social factors

      justru ini yang perlu kita ubah. budaya saintifik mestinya juga berkaitan atau dikaitkan dengan faktor sosial lainnya. ini yang membuat frasa universitas sebagai menara gading ada.

    20. Scientific culture has the following distinct characteristics that are different from those of other social cultures:

      perbedaan budaya ilmiah dengan budaya secara umum dalam konteks sosial.

    21. A particular lifestyle is formed under particular socio-economic conditions.

      jadi ada drivers untuk setiap lifestyle, termasuk scientific culture. dan drivers akan berganti sejalan dengan waktu, pada akhirnya itu akan mengendalikan lifestyle. jadi sangat bergantung kepada waktu juga.

    22. cultural concepts (such as beliefs, values and styles), cultural behaviour (for example, languages, gestures, customs and foods) and cultural products (such as literature, folk tales, art, music and handcrafts)

      konsep kemudian menjadi perilaku, hingga kemudian menjadi produk.

  8. Nov 2020
    1. Ini adalah model jurnal dalam posisi blur atau abu-abu.

      Kalau harga APC adalah kriteria jurnal abu-abu, maka seluruh jurnal terbitan Elsevier, Springer Nature, dan penerbit-penerbit komersial besar lainnya juga akan masuk kategori Jurnal Abu-Abu.

    2. Jumlah edisinya dalam setahun sangat banyak dan seperti tak ada batasan jumlah artikel dalam setiap edisi.

      Membatasi jumlah makalah ke dalam edisi penerbitan ini masih berbasis konsep penerbitan berkala tercetak. Saat masih dalam modus cetak, memang setiap makalah perlu ditandai terbit pada nomor dan volume yang mana. Ini sudah tidak relevan ketika mayoritas jurnal (kalau tidak boleh disebut semua jurnal) telah menjalankan modus daring separuh atau sepenuhnya.

      Pada modus digital dan daring, maka nomor seri artikel atau DOI yang penting untuk dicatat.

    3. biaya penerbitannya CHF 1,600 (kalau dirupiahkan cukup mahal juga),

      Memang mahal. Kalau memang sedemikian mahal, kenapa harus menerbitkan makalah di sana?

      Apakah ada alasan lain, misal untuk memenuhi syarat administratif?

      Di sinilah berkiblat kepada standardisasi barat akan menghasilkan sains berbiaya tinggi.

      Berikut ini artikel saya mengenai kenapa pengindeks bukan standar penentu kualitas http://dasaptaerwin.net/wp/2016/07/masih-tentang-scopus.html.

    4. dipastikan saja jurnalnya yang memang bagus dan penerbitnya memiliki reputasi baik, i.e. Elsevier, Springer, etc

      Menyebut Elsevier dan Springer sebagai penerbit yang bereputasi baik secara umum juga tidak tepat. Mungkin yang tepat, penerbit besar atau penerbit terkenal saja.

      Menilai artikel berdasarkan di mana ia terbit, sama halnya dengan kita menilai kemampuan menyupir seseorang dari merek mobil yang ia gunakan.

      Mari kita sebarkan budaya obyektif dengan membaca makalahnya langsung untuk menilainya.

      Berikut ini tujuh mitos dalam publikasi akademik https://medium.com/open-science-indonesia/7-myths-in-scientific-publication-85f613e60819.

    5. Jurnal dan Penerbitnya yang masih memiliki kebijakan closed access

      Ini saran yang tidak tepat, karena memilih closed access journal atau lebih tepatnya paywalled journal atau subscription-based journal akan menutup akses kepada ilmu pengetahuan.

      OA dan non OA akan sangat berkaitan dengan biaya publikasi. Model bisnis OA dan non OA saya jelaskan dalam artikel 3 bagian sbb http://dasaptaerwin.net/wp/2017/02/pengelolaan-jurnal-ilmiah-konvensional-vs-open-access-bagian-1.html.

      Memilih OA journal adalah pilihan yang paling tepat atau satu-satunya pilihan yang harus dipakai. Masalah biaya publikasi, perlu saya tekankan lagi bahwa ada lebih banyak jurnal OA yang tidak mengenakan APC dibanding yang menarik APC (70% non APC OA journal menurut DOAJ). Jadi kenapa tidak pilih salah satunya. Berikut artikel saya yang menjelaskan hal tersebut https://medium.com/open-science-indonesia/open-access-bukan-berarti-membayar-apc-36ceea663355 dan ini https://theconversation.com/indonesia-nomor-1-untuk-publikasi-jurnal-akses-terbuka-di-dunia-apa-artinya-bagi-ekosistem-riset-lokal-142382.

      Berikut artikel saya tentang bagaimana cara membuat karya menjadi OA https://medium.com/open-science-indonesia/how-to-go-oa-dalam-bahasa-indonesia-4ba435c27b11.

      Kalaupun journal non OA menjadi pilihan, pastinya anda unggah versi pracetak (preprint) nya ke preprint server seperti RINarxiv. Dengan demikian, pembaca akan selalu menemukan versi OA dari artikel kita, bahkan ketika artikel tersebut terbit di jurnal non OA.

      Versi postprintnya (versi lolos reviu sejawat tapi bukan versi final tayang) dapat anda unggah juga setelah melewati masa embargo (embargo period) dari jurnal. Cek masa embargonya di laman self-archiving policy.

      OA juga ada resikonya. Saya jelaskan sebagian kecil resikonya di sini https://medium.com/open-science-indonesia/open-access-ada-resikonya-818e8edb6aae.

    6. Bagaimana dengan bahasa Inggris yang dipakai? Banyak yang bahasanya seperti terjemahan melalui google translate atau bahkan lebih buruk lagi. Kadang masih ditemukan kata-kata yang tidak diterjemahkan oleh google translate dan terlewat untuk diperbaiki.

      Memang mestinya tidak perlu dipaksakan harus ditulis dalam Bahasa Inggris. Kita bukanlah negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau kedua.

      Bahasa Inggris memang dibutuhkan untuk mendiseminasikan hasil riset kita secara lebih luas, tapi tidak harus dipakai sebagai bahasa pengantar dalam menulis makalah. Apalagi ketika makalah yang ditulis dalam Bahasa Inggris mendapatkan nilai lebih tinggi dari artikel yang ditulis dalam Bahasa Indonesia.

      Saya pernah membuat tulisan ini http://dasaptaerwin.net/wp/2019/10/some-light-revisions-why-volcano-fumes-are-dangerous-to-humans.html.

    7. Beberapa jurnal yang diragukan reputasinya itu sering kali di-layout sederhana atau tidak memakai layout sama sekali. Ia seperti langsung menggunakan Microsofts Word dan kemudian atasnya ditempeli logo jurnal. Website yang dipakai pun sangat sederhana dan biasanya memiliki banyak terbitan jurnal sekaligus dalam websitenya.

      Memang mestinya bukan layout yang menjadi kriteria. Bukankah kita sering bilang, yang penting isinya, bukan kulit mukanya?

    8. Di tengah booming jurnal abal-abal

      Kriteria jurnal abal-abal (predatory journal) ini juga perlu diluruskan. Menggunakan Daftar Beall tanpa pertimbangan tandingan justru akan menjerumuskan kita (kaum akademik) ke dalam lembah subyektivitas.

    9. Water dan Sustainability, keduanya memiliki IF 2.5-an, not bad sebenarnya

      Masalah IF ini juga bukanlah standar kualitas dari sebuah masyarakat. Kalau kita menggunakan IF untuk menilai makalah, masih sama halnya dengan menilai kepribadian seseorang dari merek mobil atau baju yang mereka kenakan.

      IF merupakan representasi kulit saja hasil dari agregasi kinerja sitasi satu set makalah dalam suatu jurnal, bukan kinerja sitasi satu makalah saja.

      Bahkan ketika dampak dari suatu makalah yang kita nilai, jelas caranya bukan dengan melihat jumlah sitasinya.

      Menilai makalah dari journal impact factor adalah salah satu kesalahan yang mengakibatkan sains berbiaya tinggi.

      Mohon mampir membaca artikel ini http://dasaptaerwin.net/wp/2020/06/tentang-komersialisasi.html.

    10. dari situ saya agak meragukan kualitas jurnal-jurnal yg diterbitkan MDPI

      Kembali lagi, mari kita nilai makalahnya langsung dan bukan jurnalnya.

      Masalah sisi baik OA juga saya dan beberapa rekan jelaskan di sini https://jurnal.ugm.ac.id/bip/article/view/32920.

    11. Menolak indeksing secara total akan mengembalikan kita ke jaman purbakala

      Tidak juga, kita punya banyak indeksasi yang lain. Indeksasi memang bukanlah indikator kualitas, karena fungsi utamanya adalah mencari, menemukan dan menyajikan.

      Jadi kalau ada indeksasi yang tidak ribet, mengapa tidak menggunakan yang itu. Selama fungsi utamanya dipenuhi, maka mestinya kita punya banyak pilihan pengindeks.

      Berikut artikel pendek yang pernah saya tulis http://dasaptaerwin.net/wp/2018/01/diskusi-tentang-akreditasi-dan-indexing-akhir-tahun-2017.html.

      Kemarin saya juga melakukan eksperimen kecil. Pembaca tetap bisa menemukan sebuah artikel, selama artikel itu diunggah daring di tempat-tempat umum, seperti website jurnal, prosiding, repositori, dll. Ketercarian (searchability) nya bahkan tidak ditentukan oleh apakah artikel tersebut berstatus open access atau tidak. Artikel non OA pun sangat mudah ditemukan oleh mesin pencari.

      Berikut tautan video pendeknya https://www.youtube.com/watch?v=fjHIE4GjO_0&t=102s.

      Jadi pengindeks apapun yang digunakan mestinya tidak masalah.

  9. Oct 2020
    1. The sum is calculated on the basis of a price of €9,500 (US$11,200) per article

      the numbers are for 4 years deal.

    1. The growth of APCs has become an increasing concern to researchers in low- and middle-income countries, says Dominique Babini

      well truthfully it's a problem for all countries, rich or poor.

    2. public funding should not be spent on publishing fees, in addition to subscription costs. A central fund would ince

      public funding penting untuk ditandai.

    3. respected open-access journals

      respected/reputable OA journals di sini hampir akan selalu berarti top journals yang diterbitkan oleh penerbit komersial.

    4. But existing repositories in India aren’t very popular

      Apa sebabnya? Gengsi? Pengakuan?

    5. embargo period

      Artikel oleh Jon Tennant berikut ini memberikan berbagai argumentasi mengapa embargo period tidak perlu ada.

      Dalam artikel tersebut Jon menyampaikan argumentasi sederhana. Ada versi draft yang telah lolos peninjauan sejawat (biasa disebut Author Accepted Manuscript - AAM), kemudian ada versi terbit formal (published version). Seandainya pihak penerbit memang telah memberikan nilai tambah yang sangat banyak, maka pembaca pasti akan memilih dokumen versi terbit tanpa pikir panjang. Dan kalau memang itu terjadi, lantas mengapa versi AAM yang notabene masih dalam format docx, belum menjalani layout, dinilai dapat mengganggu pendapatan penerbit?

    6. post their author-accepted, peer-reviewed manuscript in an open-access repository

      pada tahap ini sebenarnya peran jurnal baru sampai:

      1. melakukan screening awal terhadap naskah yang masuk dan memutuskan apakah layak untuk diteruskan ke peninjau sejawat atau tidak
      2. mengalirkan naskah ke peninjau sejawat
      3. menerima hasil peninjauan.

      Tiga hal di atas sebenarnya dapat dilakukan sendiri oleh penulis sebelum mengirimkan naskah ke jurnal.

    7. A growing number of institutions, including Harvard University, have introduced ‘rights-retention’ policies that ensure researchers keep the right to share their work in repositories without breaching copyright agreements, says Suber

      Ini penting

    8. respected open-access journals

      Menurut saya yang dia maksud adalah "jurnal prestis".

    9. Funding agencies should invest more in local and regional open-access journals that do not require authors to pay to publish, which make up about 70% of those listed in the international Directory of Open Access Journals

      Pendapat ini benar sekali. Masalahnya adalah dengan jumlah jurnal OA yang sedemikian banyak, kenapa tidak menjadi perhatian para penulis atau menjadi pilihan pertama para penulis? Apakah masalah reputasi yang disimbolkan dengan gengsi jurnal?

    10. Proponents of the open-access movement outside India think the national subscription plan goes against the spirit of open access

      Persis. Semangat yang sama adalah yang sedang disampaikan di sini.

    11. Publishers might also refuse such a big deal because of the technical challenges of providing access to a population the size of India, says Suber

      Again.

      Menjadi aneh kalau jumlah penduduk dijadikan sebagai dasar perhitungan.

    12. India spend at least 15 billion rupees (US$200 million) on subscriptions to paywalled scholarly literature each year

      Indonesia membelanjakan berapa?

    13. free to read — in journals or on other platforms — immediately on publication

      Bebas untuk diunduh dan dibaca dengan segera adalah kuncinya. Bergabung dengan Plan S adalah hanya salah satu opsi saja.

    14. “Paying to publish is not good for countries like India, where resources for research are scarce,” says Madhan Muthu, a librarian at Azim Premji University in Bengaluru, who is part of the advisory group.

      Agree!

      Frankly, pay to publish is not good for any countries! Especially if we pay for something that we make ourselves.

    15. Although the latest proposal favours ‘green’ open access, some members of the advisory group want the government to pay APCs for reputable open-access journals so that researchers who currently can’t afford such fees can publish in them.

      Strange way of thinking.

      Bukankah dengan green OA kita selalu bisa membuat karya kita OA? Kenapa harus ke jurnal (reputable journal) untuk OA. Apakah karena gengsi? atau memang masih dilandasi alasan yang idealis, yaitu karena jurnal tersebut memberikan peninjauan sejawat yang berkualitas.

      Seandainya benar memang itu yang terjadi, kenapa tidak langsung saja ke peninjau sejawat ybs untuk minta peninjauan? Kenapa harus lewat jurnal?

    16. VijayRaghavan said in a public consultation on the policy on 12 June that quality journals need to charge these fees to survive, but the costs are disproportionately high for places such as India.

      Exactly!

      Persis dengan yang selalu saya sampaikan. Bahwa jurnal akademik perlu biaya untuk terus hidup. Yang jadi masalah bukan transaksi bayar-membayarnya, tetapi fakta bahwa di setiap biaya yang dibayarkan ada komponen keuntungan yang berlipat-lipat.

      Itulah masalahnya.

      Jadi daripada membelanjakan uang untuk korporasi for profit yang sudah bisa hidup dengan sendirinya, kenapa tidak membiayai jurnal akademik yang dioperasikan secara nirlaba?

      Pasti ada argumen bahwa negara telah mengalokasikan dana untuk membina jurnal nasional, tetapi harus diakui bahwa jumlah dana tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan dana yang mengalir ke penerbit korporasi.

    17. Instead, the researchers advising the government want authors to archive their accepted manuscripts in public online repositories

      Ok jadi India berbeda mereka bernegosiasi untuk:

      • membuka akses artikel non OA yang telah terbit
      • meminta agar seluruh artikel yang ditulis oleh peneliti India yang akan dikirimkan ke penerbit (termasuk ke penerbit yang lain) secara non OA, dapat diunggah ke repositori publik (Green OA)
    18. and in nations including Germany there are nationwide subscriptions between academic institutions and big publishers. Under the German ‘read and publish’ deals, researchers can also publish under open-access terms so that anyone can read their work for free.

      Di Jerman perjanjian dengan penerbit membuat karya non OA menjadi OA dan penelitinya dapat menerbitkan karyanya secara OA tanpa membayar APC.

    19. But if successful, India would become the largest country to strike deals that give access to paywalled articles to all citizens — more than 1.3 billion people

      Apakah cara menghitungnya benar begitu? bukankah tidak semua penduduk India dianggap sebagai pembaca artikel ilmiah?

    20. latest science, technology and innovation polic

      Proposal untuk melanggan secara nasional terbut akan dimasukkan ke dalam kebijakan sains, teknologi, dan inovasi.

    21. which is likely to happen before the year’s end

      the clock is ticking :)

    22. nationwide subscriptions

      Jadi India merencanakan untuk membayar biaya langganan jurnal untuk seluruh negara secara paket. Untuk itu, mereka harus bernegosiasi dengan penerbit-penerbit besar.

    23. The Indian government is pushing a bold proposal that would make scholarly literature accessible for free to everyone in the country

      "... accessible for free ..."

      open access sampai hari ini memang hanya diartikan sebagai membuat artikel ilmiah dapat diunduh dengan membayar APC atau dikenal sebagai modus Gold OA.

      Artikel oleh Peter Suber ini menjelaskan bahwa OA tidak hanya bisa dilakukan melalui jurnal Gold OA.

  10. Jun 2020
    1. Timeline

      Timeline perlu visualisasi (mohon lihat pesan anotasi di bagian lain). Karena dalam timeline menyajikan data angka (jumlah kasus), akan bagus kalau dalam visualisasinya menampilkan juga bubble plot.

    2. Cases analyses in this paper were compared to other faith-related health issuelike vaccine hesitancy. We believe that these two issues have similar characteristic,as government needs to strengthen health policies with fatwa or religious opinionsto solve refusal of public to these health policies due to their religious beliefs.

      Persis, metode ini, menghasilkan tabel komparasi yang saya usulkan di bagian lain dalam anotasi ini.

    3. Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama(NU) and Their Positions in Muslims Society in Indonesia

      Pandangan dari berbagai organisasi ini akan bagus kalau diringkas dalam bentuk kuadran misalnya.

    4. Indonesia is famous of its reputation as country with the largest muslimpopulation in the world
    5. For the last four months, many countries have been struggling to tackleCOVID-19 pandemic. Most of countries are applying lockdown to assure physicaldistancing and minimize contact between people.

      Dua kalimat pertama ini perlu didukung referensi. Juga kalimat setelahnya. Bila daftar memang belum pernah dibuat atau dikompilasi, maka penulis dapat berkontribusi dengan membuat daftar kebijakan atau regulasi yang terbit untuk menanggulangi penyebaran virus.

    6. Therefore, government and Islamic organizations should analyze public responsesand evaluate their policies by benchmarking PSBB regulation and fatwas related tovaccine hesitancy case

      Memang baru disarankan untuk melakukan perbandingan, tetapi bisa juga dimulai dengan sebuah perbandingan dari penulis untuk memancing diskusi.

    7. Actually, this is notthe very first time Indonesia is dealing with this kind of issue. Vaccine hesitancyhas been problematic for years, as it is strongly related to society’s religious belief.

      Akan bagus kalau ada tabel yang membandingkan respon pemimpin agama dan bagaimana respon masyarakat tentang COVID vs vaksin.

    8. Conclusion

      Sepertinya perlu ada kalimat senada ini di kesimpulan

      Sebagai negara dengan jumlah umat muslim no 1 di dunia, maka ulama punya peran sentral dan sudah selayaknya diajak bekerjasama untuk menyebarkan informasi penting tentang pandemi.

    9. Komentar umum

      • Makalah ini membahas aspek yang belum pernah dibahas sebelumnya, walaupun fragmen-fragmen isu ini sudah ditampilkan di berbagai media sejak masa awal Indonesia menangani virus ini secara serius.

      • Menampilkan milestone di sini ide yang baik. Saran saja untuk juga menampilkannya dalam bentuk visual.

  11. Apr 2020
    1. The new and improved Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2020 were published this week with as much online fanfare as THE could muster. Unfortunately, they are not improved enough.
    2. “There are limits to what universities can do and the SDGs don’t capture everything about the impact of our research.”

      Plus, the measurement is based on journal articles from commercial databases (eg: Scopus). Those databases index have language bias. On the other hand, we are lacking of national level scientific database that provide dataset for those rankings to process.

      All rankings measure the following components, which all of them contain level of bias:

      • Teaching (the learning environment): international students vs large amount of internal high school graduates
      • Research (volume, income and reputation): high profile research vs "low level" research to solve internal national problem
      • Citations (research influence): only based on commercial database with language bias
      • International outlook (staff, students and research): lack of national data (eg: tracer study) to share with those ranking, international vs national issues
      • Industry income (knowledge transfer): this is mostly controlled by economical situation, which the universities have no control.
    3. Although the compilation of the rankings is primarily motivated as a way to celebrate the real-world impact of what many universities do, a noble aspiration that I applaud, the core methodology remains unfit for purpose. At its centre, as with almost all rankings, there is an intellectual hollowness that undermines the whole project, and it is disappointing to see that the THE has yet to take responsibility for their methodological shortcomings. It is even more disappointing to see some universities abandon critical thinking in their rush to embrace the results.

      All university leaders (especially big/old universities in global south countries) are lacking this critical thinking. They knew about the biases, but they refuse to think clearly on how to process those rankings. I am sure those rankings are useful to some extent of benchmarking, but not all are to be swallowed as a whole, especially for decision making.

    4. These are the rankings that increasingly drive institutional behaviour – and competition between them.

      and not to mention it drives external economical-social setting eg: labour market, top university labeling in the mind of parents, etc.

    5. As a result, the THE clings to a methodology that despite taking insufficient account of the false precision and the uncertainties introduced by the proxy nature of the indicators used to ‘measure’ actual performance, still claims to be able to distinguish universities on scores that differ by 0.1%. It is laughable to claim this level of precision. It is to universities’ discredit that they go along.

      For less economically stable countries (eg Indonesia), many indicators are very much controlled by national level situations (regulations, funding), geographical settings, and the large sum of high school graduates to enter undergraduate degree. On the contrary, all rankings only relevant for graduate research.

    1. Some researchers have argued that preprints are no different from other grey literature due to their preliminary existence. It is a direct consequence of our academic culture, where typically only work that has been explicitly peer-reviewed and published in a scholarly journal is usually cited. Another argument is that a preprint might bring confusion in citation when it has been published formally in a journal. Moreover, some authors report that manuscripts are rejected because similarity-check software shows high similarity between submitted and preprint versions.

      Hambatan:

      • masalah sangkaan duplikasi (dan self plagiarism) antara versi preprint dan versi jurnal: ini dapat mengganggu proses publikasi di jurnal bahkan sampai penolakan (rejection),

      • masalah sitasi: mayoritas peneliti saat ini mengambil sikap untuk hanya menyitir makalah yang telah terbit di jurnal, preprint dikelompokkan sama dengan literatur abu (grey literature).

      • masalah metrik: beberapa sistem penilaian kinerja sangat bersandar kepada pengindeks. Dengan adanya preprint maka akan ada dua dokumen terindeks pada platform yang sama (misal Google Scholar).

    2. The preprint model also increases the scientific community’s responsibility by not legitimizing preprint publications that lack scientific rigour. Thus, the burden is on researchers, and indeed everyone, to think critically about the research they read, share, and re-use, whether it has been peer-reviewed or not.

      Prinsip membaca kritis

    3. Governments and funders desperately need to reconsider their focus on where they allocate funds in decisions related to scholarly communication [14].
      • Anggaran pemerintah untuk melanggan akses jurnal dan APC dapat dialihkan untuk menjaga keberlanjutan infrastruktur preprint server atau repositori nasional (seperti RIN LIPI).

      • Dukungan pemerintah sangat penting untuk menjadi keberlanjutan.

    4. There are good preprints and bad preprints, just like there are with journal articles. Overall, do not be afraid to be scooped or plagiarized! Preprints also actually protect against scooping [21,22]. Preprints establish the priority of discovery as a formally published item. Therefore, a preprint acts as proof of provenance for research ideas, data, code, models, and results—all outputs and discoveries.
      • Salah satu alasan untuk tidak mengunggah preprint adalah takut idenya dicuri,

      • Ini adalah faktor budaya yang lain. Ketakutan yang tidak beralasan. Justru dengan mengunggah preprint, peneliti dapat mengklaim ide lebih awal.

      • Preprint ada yang bagus dan ada yang buruk, peninjauan akan ada di tangan pembaca. Ini adalah hambatan budaya berikutnya, ketika mayoritas pembaca ingin melimpahkan tanggungjawab untuk memverifikasi, memeriksa, dan menjamin kualitas suatu makalah kepada para peninjau.

      • Pengalihan tanggungjawab ini sulit dilakukan ketika dokumen PR sendiri tertutup, dan tidak lepas dari bias.

      • Selain itu, dosen akan menyalahi prinsip yang disebarluaskan kepada para mahasiswa, untuk membaca secara kritis.

    5. European Geosciences Union have already become accustomed to such openness and are posting their work prior to peer-review as a discussion on the Copernicus platform [20].
      • Beberapa platform jurnal seperti yang dirilis oleh EGU memiliki jenis makalah diskusi (discussion paper) yang dirilis begitu makalah dikirimkan ke jurnal. Pada dasarnya ini preprint.

      • Cara-cara seperti ini jarang diadopsi oleh jurnal nasional!

    6. sociocultural factors
      • Faktor sosiokultur (budaya) adalah yang utama.

      • Pemahaman usang tentang publikasi ilmiah lebih banyak yang diturunkan dari senior ke para yuniornya. Para yunior ini dalam waktu 10 tahun akan menjadi senior juga yang kemudian akan menurunkan paham usang yang sama.

    7. However, as stated by Pourret [18], a majority of the journals in geochemistry also have a green colour according to the SHERPA/RoMEO grading system, indicating that preprint (and the peer-reviewed postprint version) articles submitted to these journals can be freely shared on a preprint server, without compromising authors’ abilities to publish in parallel in those journals. Moreover, Pourret et al. [17] highlighted that the majority of journals in geochemistry allow authors to share preprints of their articles (47/56; 84%).
      • Bahwa sebagian besar jurnal di bidang geokimia, membolehkan pengarsipan modus hijau (Green OA), atau pengarsipan dokumen riset, data, makalah versi preprint di repositori nirlaba (misal repositori kampus).

      • Di tahun 2020, fakta ini masih belum banyak diketahui oleh para dosen/peneliti. Mereka cenderung menerima untuk dikendalikan oleh jurnal dalam proses publikasi, tanpa keinginan berargumentasi untuk mempertahankan hak miliknya terhadap makalah (to retain copyrights).

    8. The community should really be developing this, along with new standards for linking their datasets in the spirit of the FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable)

      Prinsip FAIR ini penting untuk diperhatikan. Referensi: Irawan dkk 2018.

    9. This all comes as part of a wider global shift towards more open research practices, and the geochemistry community needs to make sure it is engaging widely with these, as well as connected issues like research integrity and reproducibility, if it is to maintain its relevance in the modern research age.
      • Prinsip utama yang patut menjadi pegangan para peneliti/dosen masa depan adalah: keinginan pribadi (self-driven initiative) untuk menyebar-luaskan berbagai hasil risetnya secara luas.

      • Untuk itu teknologi digital dan internet harus dimanfaatkan dengan maksimal. Seringkali dosen/peneliti melupakan hal ini, bahwa internet ditemukan untuk mempercepat dan memperluas penyebaran ide.

      • Integritas riset dan reprodusibilitas adalah dua nilai yang perlu ditonjolkan agar relevan dengan kemajuan era internet, bukan hanya menonjolkan nama jurnalnya dan JIFnya.

    10. there is also strong encouragement to make code re-usable, shareable, and citable, via DOI or other persistent link systems. For example, GitHub projects can be connected with Zenodo for indexing, archiving, and making them easier to cite alongside the principles of software citation [25].
      • Teknologi Github dan Gitlab fokus kepada modus teks yang dapat dengan mudah dikenali dan dibaca mesin/komputer (machine readable).

      • Saat ini text mining adalah teknologi utama yang berkembang cepat. Machine learning tidak akan jalan tanpa bahan baku dari teknologi text mining.

      • Oleh karenanya, jurnal-jurnal terutama terbitan LN sudah lama memiliki dua versi untuk setiap makalah yang dirilis, yaitu versi PDF (yang sebenarnya tidak berbeda dengan kertas zaman dulu) dan versi HTML (ini bisa dibaca mesin).

      • Pengolah kata biner seperti Ms Word sangat bergantung kepada teknologi perangkat lunak (yang dimiliki oleh entitas bisnis). Tentunya kode-kode untuk membacanya akan dikunci.

      • Bahkan PDF yang dianggap sebagai cara termudah dan teraman untuk membagikan berkas, juga tidak dapat dibaca oleh mesin dengan mudah.

    11. In the near future, given the increase in the use and profile of preprint servers and alternative publishing platforms, such as F1000 Research, it will be necessary to identify how many relevant platforms exist, to describe their scientific scope (i.e., covered disciplines), and, similar to the way that researchers evaluate the aims and scope of journals, to compare their characteristics and policies.
      • Di sini kami memperlihatkan manfaat preprint dengan keleluasaanya (tanpa batasan format, ukuran, jenis berkas dll) akan memberikan dorongan bagi peneliti untuk mempublikasi data dan metode (misal kode program).

      • Ada banyak platform berbagi kode (seperti Github dan Gitlab yang membuka banyak pintu keterbatasan saat penulis ingin membagikan kode program.

      • Platform-platform ini juga mendukung proses berbagi dokumen dan data yang cari (fluid), karena semua orang dapat dengan mudah menggandakan (forking melalui perintah git clone) proyek seseorang untuk kemudian digunakan, dimodifikasi, dan pada akhirnya mungkin mereka meminta kreator orisinalnya untuk memasukkan modifikasi menjadi versi baru dari kode program.

      • Hebatnya semua proses itu tercatat dengan hubungan antara repositori dan akun yang jelas terlihat.

    12. In geochemistry, we know that around US$7,000,000 each year is spent on open access to journals [9], with virtually none of this being reinvested into the community itself or the community being reimbursed. Given the immense value of preprints, reinvesting this value into more sustainable community-led non-profit ventures, such as EarthArXiv, is of great potential.
      • Biaya (dalam bentuk APC) yang dikeluarkan untuk menerbitkan makalah sangat tinggi. Biaya tersebut adalah di luar (on top) dari biaya riset yang telah dikeluarkan oleh peneliti atau lembaga pemberi dana riset (funder).
      • Biaya publikasi merupakan proporsi anggaran untuk sebuah dokumen yang berada di bagian akhir dari siklus riset, bukan anggaran inti.
      • Akan lebih baik kalau anggaran publikasi tersebut, sebagian besar atau seluruhnya dialirkan untuk membiayai kegiatan inti, yaitu riset.
      • Referensi: MDPI APC, NCBI, Tabel, King 2007, Calaos, 2011
    13. Preprints evolution per month in biological sciences

      Grafik yang menunjukkan lonjakan jumlah makalah preprint di bidang biologi

      Lihat warna abu (Nature Preceedings), bahkan Nature juga membuka server preprint sendiri.

    14. This is a generic problem in scholarly publishing and affects the geochemistry community as much as other disciplines. Some research has shown that preprints tend to be of similar quality to their final published versions in journals [7].
      • Ilmu kebumian terdiri dari komponen atmosfer, lithosfer, dan hydrosfer, yang masing-masing telah membangun tubuh keilmuan (body of knowledge) sendiri.
      • Geokimia sendiri merupakan interaksi antara litosfer dan hidrosfer, tentunya ini akan memberikan kondisi yang berbeda lagi.
      • Kondisi itu membuat kebutuhan dan perilaku ilmuwan di masing-masing sub bidang ilmu akan berbeda-beda.
      • Namun demikian kebutuhan untuk memiliki media publikasi yang cepat, minim hambatan waktu (delay) sepertinya akan tetap sama.
    15. One of the reasons is the delay in the peer-review process and the subsequent publication
      • Salah satu kritik terbesar terhadap preprint adalah ketidakadaan peninjauan sejawat (Peer Review/PR).

      • Proses PR ini memang menjadi proses sentral dalam publikasi. Di luar manfaatnya, PR juga dapat merugikan, karena memberikan hambatan waktu.

      • Yang unik ada makalah yang memperlihatkan hasil bahwa banyak makalah versi terpublikasi memiliki isi dan tampilan tidak berbeda dengan versi preprintnya.