212 Matching Annotations
  1. Dec 2020
    1. Issues related to water management and water policy were presented at the beginning of this report.

      tantangan dan peluang ini ditulis pada tahun 1998 tapi masih sangat relevan di indonesia. penelitian hidrogeologi sudah saatnya masuk ke ranah yang lebih rinci, mengombinasikan metode kualitatif dan kuantitatif dengan komponen prediksi lebih banyak.

    2. Application of irrigation water to cropland can result in the return flow having poorer quality because evapotranspiration by plants removes some water but not the dissolved salts.

      kandungan garam dalam tanah mungkin bukan masalah utama kita, tapi itu masalah utama di kawasan kering, misal australia, karena sangat mengganggu pertanian.

    3. BIODEGRADATION

      bagian ini hampir tidak pernah ditelaah pada riset hidrogeologi. mungkin karena ilmu ini beririsan dengan ilmu biologi dan kimia. salah satu bukti bahwa riset multidisiplin jarang dilakukan. :)

    4. Two of the fundamental controlson water chemistry in drainagebasins are the type of geologicmaterials that are present and the length of time that water is in contact with those materials

      ini quote penting.

    5. Chemical reactions that affect the biological and geochemical characteristics of a basin include

      di sini dijelaskan berbagai proses utama (dan sering terjadi) pada aliran air di suatu cekungan (basin). proses-proses itu menghasilkan evolusi kimia air.

    6. Chemical Interactions of Ground Water and Surface Water

      di sini bagian yang menarik baru dimulai :D

    7. Wetlands in riverine and coastal areas have especially complex hydrological interactions because they are subject to periodic water-level changes

      halaman ini menggambarkan interaksi air di kawasan wetlands, rawa adalah salah satu contohnya. dalam hal ini ciri wetlands bukan hanya pada koneksi airnya, tetapi juga pada kondisi geologinya. kawasan wetlands akan banyak mengandung lapisan lempung, karena arus air yang tenang (ini hukum geologi LOL).

    8. Lakes can receive ground-water inflow

      gaining dan losing stream juga berlaku untuk danau.

    9. Surface-water exchange with ground water in the hyporheic zone

      di sini dijelaskan tentang posisi dan peran zona hiporeik. zona ini penting dalam interaksi antara air sungai dan air tanah.

    10. Where streamflow is generated in head- waters areas, the changes in streamflow between gaining and losing conditions may be particularly variable (Figure 13).

      di bantaran sungai akan terjadi fenomena gaining stream (air tanah keluar kemudian mengisi sungai) atau disebut juga sebagai efluen dan losing stream (air sungai meresap ke dalam akuifer) atau disebut juga sebagai influen.

      aktivitas sumur-sumur di bantaran sungai akan mengubah interaksi gaining stream dan losing stream tersebut.

    11. Withdrawing water from shallow aquifers that are directly connected to surface-water bodies can have a signifi- cant effect on the movement of water between these two water bodies.

      ini terjadi di bantaran sungai di indonesia. rumah-rumah di kawasan itu memiliki sumur yang lokasinya berdekatan atau sangat berdekatan dengan sungai, sehingga dapat dipastikan air sungai ikut tersedot ketika sumur tersebut memompa air tanah. interaksi air tanah dan air sungai terjadi lebih cepat di zona hiporeik, proses filtrasi (penyaringan) air tidak terjadi.

    12. The ground-water compo- nent of streamflow was estimated from a streamflow hydrograph for the Homochitto River in Mississippi,

      pengamatan time series seperti ini jarang dilakukan dalam penelitian-penelitian hidrogeologi di indonesia.

    13. Rises in stream stage can cause the direction of flow through the streambed to reverse and lead to bank storage

      sekali lagi. gambar skematik yang bagus. kekuatan seorang hydrogeologist adalah dari pemahamannya terhadap kondisi lapangan. pemahaman yang baik bisa diwujudkan dalam bentuk sketsa tangan atau sebaliknya dengan sketsa tangan kita bisa memahami alam dengan lebih baik.

    14. INTERACTION OF GROUND WATER AND STREAMS

      gambar model yang sederhana. akan bagus kalau kita dapat menggambarkan sendiri (walaupun hanya dengan tangan) interaksi yang sama di daerah kita.

    15. Concepts of Ground Water, Water Table,and Flow Systems

      ilustrasi yang sangat bagus untuk menunjukkan bahwa adanya sumur akan mengubah arah aliran air tanah secara makro.

    16. The success of efforts to construct new wetlands that replicate those that have been destroyed depends on the extent to which the replacement wetland is hydrologically similar to the destroyed wetland

      ini idealnya. pada kenyataannya sangat sulit untuk meniru (mereplikasi) alam.

    17. Wetlands can be highly sensitive to the effects of ground-water development and to land-use changes that modify the ground- water flow regime of a wetland area.

      ini berkaitan dengan isu reklamasi di daerah rawa (termasuk wetlands).

    18. Storage of water in streambanks, on flood plains, and in wetlands along streams reduces flooding downstream

      ini prinsip yang mungkin kebalikan dari apa yang sering kita lakukan, melakukan normalisasi sungai yang tujuan awalnya ingin mempercepat aliran air sungai dari hulu menuju hilir. caranya adalah dengan membuat dinding beton sepanjang sungai. sepertinya langkah ini melawan prinsip dasar yang disampaikan dalam alinea di atas. jadi ini isu normalisasi vs naturalisasi.

    19. These losses of water and delays in traveltime can be significant, depending on antecedent ground-water and streamflow conditions as well as on other factors such as the condition of the channel and the presence of aquatic and riparian vegetation.

      antecedent = preceding in time or order; previous or preexisting.

    20. Another form of water-rights accounting involves the trading of ground-water rights and surface-water rights.

      di sini ditekankan bahwa ilmu hidro(geo)logi hanyalah sebagian saja ilmu yang berperan dalam pengelolaan sumber daya air. ilmu lainnya (termasuk ilmu sosial ekonomi) sangat penting pula dipelajari untuk dapat mengelola air dengan lebih seksama. pendekatan multidisiplin penting.

    21. dissolved oxygen are altered

      ini persis terjadi juga di indonesia. banyak yang menyangka bahwa perubahan pH, TDS, DO adalah pengaruh dari geologi atau lingkungan fisik lainnya, padahal itu karena pengaruh dari permukaan yang pasti dipengaruhi oleh aktivitas manusia (antropogenik).

    22. Much of the ground-water contamination in the United States is in shallow aquifers that are directly connected to surface water

      ini juga terjadi di hampir semua kota besar di Indonesia.

    23. It has become difficult in recent years to construct reservoirs for surface storage of water because of environmental concerns and because of the difficulty in locating suit- able sites.

      terjadi untuk semua kawasan perkotaan. ketika kawasan lama sudah terlalu padat, maka kita mencari kawasan baru untuk dikembangkan. awalnya bagus, pada saatnya nanti akan padat juga dengan kualitas lingkungan menurun jauh dan mendekati kawasan yang lama.

    24. A Single Resource

      powerful title

    1. In comparison, patents for inventions and rights to trade secrets are property rights that encourage the creation of private knowledge

      persis! paten mendorong private knowledge

    2. Ownership of a scientific discovery is a special property right that encourages the creation of public knowledge.

      ini betul. tapi tetap saja ownership perlu didefinisikan ulang. definisi kita tentang kepemilikan ilmu pengetahuan saat ini cenderung membuat kita menutupi apa yang kita hasilkan. dan hanya akan mengumumkannya bila sudah terbit atau sudah jadi paten. perlu atau tidaknya paten sendiri untuk riset yang dibiayai negara perlu diuji lagi.

    3. Peer review is a mechanism that results in recognition from peers, which is a ‘hard currency’ in the scientific culture

      ini juga. peninjauan sejawat tidak selalu (bahkan mungkin sering) bersifat subyektif. bagi kita yang sudah pernah naik porsche, maka akan bilang suzuki carry adalah mobil primitif. tapi pemilik suzuki carry juga bisa bilang, buat apa pakai mobil balap kalau saya menggunakan mobil ini untuk mengangkut sayur dari kebun ke pasar.

    4. originality is an important mark

      originality memang sebuah tanda penting, tetapi harus diakui bahwa cara seseorang memandang originalitas akan berbeda-beda, apalagi kalau persepsi peneliti indonesia disamakan dengan persepsi peneliti asing. di indonesia mungkin riset-riset jenis tertentu adalah original, sedang bagi peneliti asing (yang tidak tinggal di indonesia) bisa jadi tidak. walaupun demikian, riset yang dinilai tidak original tersebut harus ditempatkan pada posisi yang layak, selama prinsip saintifik yang digunakannya benar.

    5. Confirmation of priority

      confirmatory of priority perlu. artinya kalau satu orang telah menemukan sesuatu, maka urutan prioritas perlu dicatat. tapi yang perlu diartikan ulang apakah satu orang itu adalah pemilik pengetahuan yang telah ia hasilkan? jelas jawabnya dia bukan pemiliknya.

    6. ownership

      perlu redefinisi ownership terutama karena mayoritas riset kita dibiayai negara.

    7. In such a reward system based on precedence, scientists compete to be the first even more fiercely than do athletes

      to compete harus didefinisikan ulang, juga analogi atlit

    8. Only things that have been verified can be regarded as scientific knowledge.

      data tidak pernah diminta di setiap hibah riset. kalaupun diminta, harus selalu dalam bentuk makalah.

    9. Be sceptical and critical.

      ini jelas tidak kita lakukan sekarang. semua orang cara berpikirnya sama. :)

    10. These values included in scientific culture guide outstanding people with high intelligence to discard vulgar values such as social status, reputation, wealth, comfort and ease, and to engage in laborious scientific undertakings.

      to discard vulgar values such as social status, reputation ... > sepertinya sekarang kita melakukan ini.

    11. Scientific culture came into being with the emergence of modern science and has developed in tandem with it

      di luar prinsip sains yang cenderung statis, tetapi cara kita melaksanakannya perlu berubah mengikuti perkembangan zaman.

    12. is crucial for the healthy development of science and technology

      healthy menjadi fokus juga

    13. of great importance for scientists to hold to scientific belief

      tanpa disadari ada banyak prinsip yang bertentangan dengan saintific belief.

    14. The public's understanding, acceptance and simulation of the scientific community's lifestyle is also an important part of scientific culture.

      persis. mestinya begini. sekarang apa yang telah kita lakukan untuk mencapai tujuan ini. tentunya tidak dapat dicapati hanya dengan menulis makalah di jurnal tertentu.

    15. It also refers to the wide spread and application of scientific knowledge, methods, values and ethical ideas in other social and cultural fields

      bagaimana ini bisa dicapai kalau yang kita ukur dengan gencar hanya di bagian hilir. dan itupun hanya makalah yang terbit dalam jurnal kategori tertentu.

    16. It is passed from generation to generation through customs

      budaya diturunkan, karena itu adalah tanggungjawab kita untuk menurungkan budaya yang benar.

    17. one of the criteria for the correctness of a new scientific theory or law is its reproducibility and verifiability

      reproducibility sering tidak terjadi. kalaupun terjadi, hanya berorientasi kepada permintaan jurnal tertentu agar penulis mengikuti panduan penerbitan makalah. reproducibility mestinya bersifat umum.

    18. solving problems, communicating and behaving

      persis. perilaku yang diharapkan bukan hanya diukur dari jumlah publikasi yang ditulis atau jumlah proposal riset yang diusulkan, tetapi juga cara memberikan solusi, cara mengkomunikasikan hasil riset dan perilaku saintifik.

    19. relatively independently from the influence of other social factors

      justru ini yang perlu kita ubah. budaya saintifik mestinya juga berkaitan atau dikaitkan dengan faktor sosial lainnya. ini yang membuat frasa universitas sebagai menara gading ada.

    20. Scientific culture has the following distinct characteristics that are different from those of other social cultures:

      perbedaan budaya ilmiah dengan budaya secara umum dalam konteks sosial.

    21. A particular lifestyle is formed under particular socio-economic conditions.

      jadi ada drivers untuk setiap lifestyle, termasuk scientific culture. dan drivers akan berganti sejalan dengan waktu, pada akhirnya itu akan mengendalikan lifestyle. jadi sangat bergantung kepada waktu juga.

    22. cultural concepts (such as beliefs, values and styles), cultural behaviour (for example, languages, gestures, customs and foods) and cultural products (such as literature, folk tales, art, music and handcrafts)

      konsep kemudian menjadi perilaku, hingga kemudian menjadi produk.

  2. Nov 2020
    1. Ini adalah model jurnal dalam posisi blur atau abu-abu.

      Kalau harga APC adalah kriteria jurnal abu-abu, maka seluruh jurnal terbitan Elsevier, Springer Nature, dan penerbit-penerbit komersial besar lainnya juga akan masuk kategori Jurnal Abu-Abu.

    2. Jumlah edisinya dalam setahun sangat banyak dan seperti tak ada batasan jumlah artikel dalam setiap edisi.

      Membatasi jumlah makalah ke dalam edisi penerbitan ini masih berbasis konsep penerbitan berkala tercetak. Saat masih dalam modus cetak, memang setiap makalah perlu ditandai terbit pada nomor dan volume yang mana. Ini sudah tidak relevan ketika mayoritas jurnal (kalau tidak boleh disebut semua jurnal) telah menjalankan modus daring separuh atau sepenuhnya.

      Pada modus digital dan daring, maka nomor seri artikel atau DOI yang penting untuk dicatat.

    3. biaya penerbitannya CHF 1,600 (kalau dirupiahkan cukup mahal juga),

      Memang mahal. Kalau memang sedemikian mahal, kenapa harus menerbitkan makalah di sana?

      Apakah ada alasan lain, misal untuk memenuhi syarat administratif?

      Di sinilah berkiblat kepada standardisasi barat akan menghasilkan sains berbiaya tinggi.

      Berikut ini artikel saya mengenai kenapa pengindeks bukan standar penentu kualitas http://dasaptaerwin.net/wp/2016/07/masih-tentang-scopus.html.

    4. dipastikan saja jurnalnya yang memang bagus dan penerbitnya memiliki reputasi baik, i.e. Elsevier, Springer, etc

      Menyebut Elsevier dan Springer sebagai penerbit yang bereputasi baik secara umum juga tidak tepat. Mungkin yang tepat, penerbit besar atau penerbit terkenal saja.

      Menilai artikel berdasarkan di mana ia terbit, sama halnya dengan kita menilai kemampuan menyupir seseorang dari merek mobil yang ia gunakan.

      Mari kita sebarkan budaya obyektif dengan membaca makalahnya langsung untuk menilainya.

      Berikut ini tujuh mitos dalam publikasi akademik https://medium.com/open-science-indonesia/7-myths-in-scientific-publication-85f613e60819.

    5. Jurnal dan Penerbitnya yang masih memiliki kebijakan closed access

      Ini saran yang tidak tepat, karena memilih closed access journal atau lebih tepatnya paywalled journal atau subscription-based journal akan menutup akses kepada ilmu pengetahuan.

      OA dan non OA akan sangat berkaitan dengan biaya publikasi. Model bisnis OA dan non OA saya jelaskan dalam artikel 3 bagian sbb http://dasaptaerwin.net/wp/2017/02/pengelolaan-jurnal-ilmiah-konvensional-vs-open-access-bagian-1.html.

      Memilih OA journal adalah pilihan yang paling tepat atau satu-satunya pilihan yang harus dipakai. Masalah biaya publikasi, perlu saya tekankan lagi bahwa ada lebih banyak jurnal OA yang tidak mengenakan APC dibanding yang menarik APC (70% non APC OA journal menurut DOAJ). Jadi kenapa tidak pilih salah satunya. Berikut artikel saya yang menjelaskan hal tersebut https://medium.com/open-science-indonesia/open-access-bukan-berarti-membayar-apc-36ceea663355 dan ini https://theconversation.com/indonesia-nomor-1-untuk-publikasi-jurnal-akses-terbuka-di-dunia-apa-artinya-bagi-ekosistem-riset-lokal-142382.

      Berikut artikel saya tentang bagaimana cara membuat karya menjadi OA https://medium.com/open-science-indonesia/how-to-go-oa-dalam-bahasa-indonesia-4ba435c27b11.

      Kalaupun journal non OA menjadi pilihan, pastinya anda unggah versi pracetak (preprint) nya ke preprint server seperti RINarxiv. Dengan demikian, pembaca akan selalu menemukan versi OA dari artikel kita, bahkan ketika artikel tersebut terbit di jurnal non OA.

      Versi postprintnya (versi lolos reviu sejawat tapi bukan versi final tayang) dapat anda unggah juga setelah melewati masa embargo (embargo period) dari jurnal. Cek masa embargonya di laman self-archiving policy.

      OA juga ada resikonya. Saya jelaskan sebagian kecil resikonya di sini https://medium.com/open-science-indonesia/open-access-ada-resikonya-818e8edb6aae.

    6. Bagaimana dengan bahasa Inggris yang dipakai? Banyak yang bahasanya seperti terjemahan melalui google translate atau bahkan lebih buruk lagi. Kadang masih ditemukan kata-kata yang tidak diterjemahkan oleh google translate dan terlewat untuk diperbaiki.

      Memang mestinya tidak perlu dipaksakan harus ditulis dalam Bahasa Inggris. Kita bukanlah negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau kedua.

      Bahasa Inggris memang dibutuhkan untuk mendiseminasikan hasil riset kita secara lebih luas, tapi tidak harus dipakai sebagai bahasa pengantar dalam menulis makalah. Apalagi ketika makalah yang ditulis dalam Bahasa Inggris mendapatkan nilai lebih tinggi dari artikel yang ditulis dalam Bahasa Indonesia.

      Saya pernah membuat tulisan ini http://dasaptaerwin.net/wp/2019/10/some-light-revisions-why-volcano-fumes-are-dangerous-to-humans.html.

    7. Beberapa jurnal yang diragukan reputasinya itu sering kali di-layout sederhana atau tidak memakai layout sama sekali. Ia seperti langsung menggunakan Microsofts Word dan kemudian atasnya ditempeli logo jurnal. Website yang dipakai pun sangat sederhana dan biasanya memiliki banyak terbitan jurnal sekaligus dalam websitenya.

      Memang mestinya bukan layout yang menjadi kriteria. Bukankah kita sering bilang, yang penting isinya, bukan kulit mukanya?

    8. Di tengah booming jurnal abal-abal

      Kriteria jurnal abal-abal (predatory journal) ini juga perlu diluruskan. Menggunakan Daftar Beall tanpa pertimbangan tandingan justru akan menjerumuskan kita (kaum akademik) ke dalam lembah subyektivitas.

    9. Water dan Sustainability, keduanya memiliki IF 2.5-an, not bad sebenarnya

      Masalah IF ini juga bukanlah standar kualitas dari sebuah masyarakat. Kalau kita menggunakan IF untuk menilai makalah, masih sama halnya dengan menilai kepribadian seseorang dari merek mobil atau baju yang mereka kenakan.

      IF merupakan representasi kulit saja hasil dari agregasi kinerja sitasi satu set makalah dalam suatu jurnal, bukan kinerja sitasi satu makalah saja.

      Bahkan ketika dampak dari suatu makalah yang kita nilai, jelas caranya bukan dengan melihat jumlah sitasinya.

      Menilai makalah dari journal impact factor adalah salah satu kesalahan yang mengakibatkan sains berbiaya tinggi.

      Mohon mampir membaca artikel ini http://dasaptaerwin.net/wp/2020/06/tentang-komersialisasi.html.

    10. dari situ saya agak meragukan kualitas jurnal-jurnal yg diterbitkan MDPI

      Kembali lagi, mari kita nilai makalahnya langsung dan bukan jurnalnya.

      Masalah sisi baik OA juga saya dan beberapa rekan jelaskan di sini https://jurnal.ugm.ac.id/bip/article/view/32920.

    11. Menolak indeksing secara total akan mengembalikan kita ke jaman purbakala

      Tidak juga, kita punya banyak indeksasi yang lain. Indeksasi memang bukanlah indikator kualitas, karena fungsi utamanya adalah mencari, menemukan dan menyajikan.

      Jadi kalau ada indeksasi yang tidak ribet, mengapa tidak menggunakan yang itu. Selama fungsi utamanya dipenuhi, maka mestinya kita punya banyak pilihan pengindeks.

      Berikut artikel pendek yang pernah saya tulis http://dasaptaerwin.net/wp/2018/01/diskusi-tentang-akreditasi-dan-indexing-akhir-tahun-2017.html.

      Kemarin saya juga melakukan eksperimen kecil. Pembaca tetap bisa menemukan sebuah artikel, selama artikel itu diunggah daring di tempat-tempat umum, seperti website jurnal, prosiding, repositori, dll. Ketercarian (searchability) nya bahkan tidak ditentukan oleh apakah artikel tersebut berstatus open access atau tidak. Artikel non OA pun sangat mudah ditemukan oleh mesin pencari.

      Berikut tautan video pendeknya https://www.youtube.com/watch?v=fjHIE4GjO_0&t=102s.

      Jadi pengindeks apapun yang digunakan mestinya tidak masalah.

  3. Oct 2020
    1. The sum is calculated on the basis of a price of €9,500 (US$11,200) per article

      the numbers are for 4 years deal.

    1. The growth of APCs has become an increasing concern to researchers in low- and middle-income countries, says Dominique Babini

      well truthfully it's a problem for all countries, rich or poor.

    2. public funding should not be spent on publishing fees, in addition to subscription costs. A central fund would ince

      public funding penting untuk ditandai.

    3. respected open-access journals

      respected/reputable OA journals di sini hampir akan selalu berarti top journals yang diterbitkan oleh penerbit komersial.

    4. But existing repositories in India aren’t very popular

      Apa sebabnya? Gengsi? Pengakuan?

    5. embargo period

      Artikel oleh Jon Tennant berikut ini memberikan berbagai argumentasi mengapa embargo period tidak perlu ada.

      Dalam artikel tersebut Jon menyampaikan argumentasi sederhana. Ada versi draft yang telah lolos peninjauan sejawat (biasa disebut Author Accepted Manuscript - AAM), kemudian ada versi terbit formal (published version). Seandainya pihak penerbit memang telah memberikan nilai tambah yang sangat banyak, maka pembaca pasti akan memilih dokumen versi terbit tanpa pikir panjang. Dan kalau memang itu terjadi, lantas mengapa versi AAM yang notabene masih dalam format docx, belum menjalani layout, dinilai dapat mengganggu pendapatan penerbit?

    6. post their author-accepted, peer-reviewed manuscript in an open-access repository

      pada tahap ini sebenarnya peran jurnal baru sampai:

      1. melakukan screening awal terhadap naskah yang masuk dan memutuskan apakah layak untuk diteruskan ke peninjau sejawat atau tidak
      2. mengalirkan naskah ke peninjau sejawat
      3. menerima hasil peninjauan.

      Tiga hal di atas sebenarnya dapat dilakukan sendiri oleh penulis sebelum mengirimkan naskah ke jurnal.

    7. A growing number of institutions, including Harvard University, have introduced ‘rights-retention’ policies that ensure researchers keep the right to share their work in repositories without breaching copyright agreements, says Suber

      Ini penting

    8. respected open-access journals

      Menurut saya yang dia maksud adalah "jurnal prestis".

    9. Funding agencies should invest more in local and regional open-access journals that do not require authors to pay to publish, which make up about 70% of those listed in the international Directory of Open Access Journals

      Pendapat ini benar sekali. Masalahnya adalah dengan jumlah jurnal OA yang sedemikian banyak, kenapa tidak menjadi perhatian para penulis atau menjadi pilihan pertama para penulis? Apakah masalah reputasi yang disimbolkan dengan gengsi jurnal?

    10. Proponents of the open-access movement outside India think the national subscription plan goes against the spirit of open access

      Persis. Semangat yang sama adalah yang sedang disampaikan di sini.

    11. Publishers might also refuse such a big deal because of the technical challenges of providing access to a population the size of India, says Suber

      Again.

      Menjadi aneh kalau jumlah penduduk dijadikan sebagai dasar perhitungan.

    12. India spend at least 15 billion rupees (US$200 million) on subscriptions to paywalled scholarly literature each year

      Indonesia membelanjakan berapa?

    13. free to read — in journals or on other platforms — immediately on publication

      Bebas untuk diunduh dan dibaca dengan segera adalah kuncinya. Bergabung dengan Plan S adalah hanya salah satu opsi saja.

    14. “Paying to publish is not good for countries like India, where resources for research are scarce,” says Madhan Muthu, a librarian at Azim Premji University in Bengaluru, who is part of the advisory group.

      Agree!

      Frankly, pay to publish is not good for any countries! Especially if we pay for something that we make ourselves.

    15. Although the latest proposal favours ‘green’ open access, some members of the advisory group want the government to pay APCs for reputable open-access journals so that researchers who currently can’t afford such fees can publish in them.

      Strange way of thinking.

      Bukankah dengan green OA kita selalu bisa membuat karya kita OA? Kenapa harus ke jurnal (reputable journal) untuk OA. Apakah karena gengsi? atau memang masih dilandasi alasan yang idealis, yaitu karena jurnal tersebut memberikan peninjauan sejawat yang berkualitas.

      Seandainya benar memang itu yang terjadi, kenapa tidak langsung saja ke peninjau sejawat ybs untuk minta peninjauan? Kenapa harus lewat jurnal?

    16. VijayRaghavan said in a public consultation on the policy on 12 June that quality journals need to charge these fees to survive, but the costs are disproportionately high for places such as India.

      Exactly!

      Persis dengan yang selalu saya sampaikan. Bahwa jurnal akademik perlu biaya untuk terus hidup. Yang jadi masalah bukan transaksi bayar-membayarnya, tetapi fakta bahwa di setiap biaya yang dibayarkan ada komponen keuntungan yang berlipat-lipat.

      Itulah masalahnya.

      Jadi daripada membelanjakan uang untuk korporasi for profit yang sudah bisa hidup dengan sendirinya, kenapa tidak membiayai jurnal akademik yang dioperasikan secara nirlaba?

      Pasti ada argumen bahwa negara telah mengalokasikan dana untuk membina jurnal nasional, tetapi harus diakui bahwa jumlah dana tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan dana yang mengalir ke penerbit korporasi.

    17. Instead, the researchers advising the government want authors to archive their accepted manuscripts in public online repositories

      Ok jadi India berbeda mereka bernegosiasi untuk:

      • membuka akses artikel non OA yang telah terbit
      • meminta agar seluruh artikel yang ditulis oleh peneliti India yang akan dikirimkan ke penerbit (termasuk ke penerbit yang lain) secara non OA, dapat diunggah ke repositori publik (Green OA)
    18. and in nations including Germany there are nationwide subscriptions between academic institutions and big publishers. Under the German ‘read and publish’ deals, researchers can also publish under open-access terms so that anyone can read their work for free.

      Di Jerman perjanjian dengan penerbit membuat karya non OA menjadi OA dan penelitinya dapat menerbitkan karyanya secara OA tanpa membayar APC.

    19. But if successful, India would become the largest country to strike deals that give access to paywalled articles to all citizens — more than 1.3 billion people

      Apakah cara menghitungnya benar begitu? bukankah tidak semua penduduk India dianggap sebagai pembaca artikel ilmiah?

    20. latest science, technology and innovation polic

      Proposal untuk melanggan secara nasional terbut akan dimasukkan ke dalam kebijakan sains, teknologi, dan inovasi.

    21. which is likely to happen before the year’s end

      the clock is ticking :)

    22. nationwide subscriptions

      Jadi India merencanakan untuk membayar biaya langganan jurnal untuk seluruh negara secara paket. Untuk itu, mereka harus bernegosiasi dengan penerbit-penerbit besar.

    23. The Indian government is pushing a bold proposal that would make scholarly literature accessible for free to everyone in the country

      "... accessible for free ..."

      open access sampai hari ini memang hanya diartikan sebagai membuat artikel ilmiah dapat diunduh dengan membayar APC atau dikenal sebagai modus Gold OA.

      Artikel oleh Peter Suber ini menjelaskan bahwa OA tidak hanya bisa dilakukan melalui jurnal Gold OA.

  4. Jun 2020
    1. Timeline

      Timeline perlu visualisasi (mohon lihat pesan anotasi di bagian lain). Karena dalam timeline menyajikan data angka (jumlah kasus), akan bagus kalau dalam visualisasinya menampilkan juga bubble plot.

    2. Cases analyses in this paper were compared to other faith-related health issuelike vaccine hesitancy. We believe that these two issues have similar characteristic,as government needs to strengthen health policies with fatwa or religious opinionsto solve refusal of public to these health policies due to their religious beliefs.

      Persis, metode ini, menghasilkan tabel komparasi yang saya usulkan di bagian lain dalam anotasi ini.

    3. Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama(NU) and Their Positions in Muslims Society in Indonesia

      Pandangan dari berbagai organisasi ini akan bagus kalau diringkas dalam bentuk kuadran misalnya.

    4. Indonesia is famous of its reputation as country with the largest muslimpopulation in the world
    5. For the last four months, many countries have been struggling to tackleCOVID-19 pandemic. Most of countries are applying lockdown to assure physicaldistancing and minimize contact between people.

      Dua kalimat pertama ini perlu didukung referensi. Juga kalimat setelahnya. Bila daftar memang belum pernah dibuat atau dikompilasi, maka penulis dapat berkontribusi dengan membuat daftar kebijakan atau regulasi yang terbit untuk menanggulangi penyebaran virus.

    6. Therefore, government and Islamic organizations should analyze public responsesand evaluate their policies by benchmarking PSBB regulation and fatwas related tovaccine hesitancy case

      Memang baru disarankan untuk melakukan perbandingan, tetapi bisa juga dimulai dengan sebuah perbandingan dari penulis untuk memancing diskusi.

    7. Actually, this is notthe very first time Indonesia is dealing with this kind of issue. Vaccine hesitancyhas been problematic for years, as it is strongly related to society’s religious belief.

      Akan bagus kalau ada tabel yang membandingkan respon pemimpin agama dan bagaimana respon masyarakat tentang COVID vs vaksin.

    8. Conclusion

      Sepertinya perlu ada kalimat senada ini di kesimpulan

      Sebagai negara dengan jumlah umat muslim no 1 di dunia, maka ulama punya peran sentral dan sudah selayaknya diajak bekerjasama untuk menyebarkan informasi penting tentang pandemi.

    9. Komentar umum

      • Makalah ini membahas aspek yang belum pernah dibahas sebelumnya, walaupun fragmen-fragmen isu ini sudah ditampilkan di berbagai media sejak masa awal Indonesia menangani virus ini secara serius.

      • Menampilkan milestone di sini ide yang baik. Saran saja untuk juga menampilkannya dalam bentuk visual.

  5. Apr 2020
    1. The new and improved Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2020 were published this week with as much online fanfare as THE could muster. Unfortunately, they are not improved enough.
    2. “There are limits to what universities can do and the SDGs don’t capture everything about the impact of our research.”

      Plus, the measurement is based on journal articles from commercial databases (eg: Scopus). Those databases index have language bias. On the other hand, we are lacking of national level scientific database that provide dataset for those rankings to process.

      All rankings measure the following components, which all of them contain level of bias:

      • Teaching (the learning environment): international students vs large amount of internal high school graduates
      • Research (volume, income and reputation): high profile research vs "low level" research to solve internal national problem
      • Citations (research influence): only based on commercial database with language bias
      • International outlook (staff, students and research): lack of national data (eg: tracer study) to share with those ranking, international vs national issues
      • Industry income (knowledge transfer): this is mostly controlled by economical situation, which the universities have no control.
    3. Although the compilation of the rankings is primarily motivated as a way to celebrate the real-world impact of what many universities do, a noble aspiration that I applaud, the core methodology remains unfit for purpose. At its centre, as with almost all rankings, there is an intellectual hollowness that undermines the whole project, and it is disappointing to see that the THE has yet to take responsibility for their methodological shortcomings. It is even more disappointing to see some universities abandon critical thinking in their rush to embrace the results.

      All university leaders (especially big/old universities in global south countries) are lacking this critical thinking. They knew about the biases, but they refuse to think clearly on how to process those rankings. I am sure those rankings are useful to some extent of benchmarking, but not all are to be swallowed as a whole, especially for decision making.

    4. These are the rankings that increasingly drive institutional behaviour – and competition between them.

      and not to mention it drives external economical-social setting eg: labour market, top university labeling in the mind of parents, etc.

    5. As a result, the THE clings to a methodology that despite taking insufficient account of the false precision and the uncertainties introduced by the proxy nature of the indicators used to ‘measure’ actual performance, still claims to be able to distinguish universities on scores that differ by 0.1%. It is laughable to claim this level of precision. It is to universities’ discredit that they go along.

      For less economically stable countries (eg Indonesia), many indicators are very much controlled by national level situations (regulations, funding), geographical settings, and the large sum of high school graduates to enter undergraduate degree. On the contrary, all rankings only relevant for graduate research.

    1. Some researchers have argued that preprints are no different from other grey literature due to their preliminary existence. It is a direct consequence of our academic culture, where typically only work that has been explicitly peer-reviewed and published in a scholarly journal is usually cited. Another argument is that a preprint might bring confusion in citation when it has been published formally in a journal. Moreover, some authors report that manuscripts are rejected because similarity-check software shows high similarity between submitted and preprint versions.

      Hambatan:

      • masalah sangkaan duplikasi (dan self plagiarism) antara versi preprint dan versi jurnal: ini dapat mengganggu proses publikasi di jurnal bahkan sampai penolakan (rejection),

      • masalah sitasi: mayoritas peneliti saat ini mengambil sikap untuk hanya menyitir makalah yang telah terbit di jurnal, preprint dikelompokkan sama dengan literatur abu (grey literature).

      • masalah metrik: beberapa sistem penilaian kinerja sangat bersandar kepada pengindeks. Dengan adanya preprint maka akan ada dua dokumen terindeks pada platform yang sama (misal Google Scholar).

    2. The preprint model also increases the scientific community’s responsibility by not legitimizing preprint publications that lack scientific rigour. Thus, the burden is on researchers, and indeed everyone, to think critically about the research they read, share, and re-use, whether it has been peer-reviewed or not.

      Prinsip membaca kritis

    3. Governments and funders desperately need to reconsider their focus on where they allocate funds in decisions related to scholarly communication [14].
      • Anggaran pemerintah untuk melanggan akses jurnal dan APC dapat dialihkan untuk menjaga keberlanjutan infrastruktur preprint server atau repositori nasional (seperti RIN LIPI).

      • Dukungan pemerintah sangat penting untuk menjadi keberlanjutan.

    4. There are good preprints and bad preprints, just like there are with journal articles. Overall, do not be afraid to be scooped or plagiarized! Preprints also actually protect against scooping [21,22]. Preprints establish the priority of discovery as a formally published item. Therefore, a preprint acts as proof of provenance for research ideas, data, code, models, and results—all outputs and discoveries.
      • Salah satu alasan untuk tidak mengunggah preprint adalah takut idenya dicuri,

      • Ini adalah faktor budaya yang lain. Ketakutan yang tidak beralasan. Justru dengan mengunggah preprint, peneliti dapat mengklaim ide lebih awal.

      • Preprint ada yang bagus dan ada yang buruk, peninjauan akan ada di tangan pembaca. Ini adalah hambatan budaya berikutnya, ketika mayoritas pembaca ingin melimpahkan tanggungjawab untuk memverifikasi, memeriksa, dan menjamin kualitas suatu makalah kepada para peninjau.

      • Pengalihan tanggungjawab ini sulit dilakukan ketika dokumen PR sendiri tertutup, dan tidak lepas dari bias.

      • Selain itu, dosen akan menyalahi prinsip yang disebarluaskan kepada para mahasiswa, untuk membaca secara kritis.

    5. European Geosciences Union have already become accustomed to such openness and are posting their work prior to peer-review as a discussion on the Copernicus platform [20].
      • Beberapa platform jurnal seperti yang dirilis oleh EGU memiliki jenis makalah diskusi (discussion paper) yang dirilis begitu makalah dikirimkan ke jurnal. Pada dasarnya ini preprint.

      • Cara-cara seperti ini jarang diadopsi oleh jurnal nasional!

    6. sociocultural factors
      • Faktor sosiokultur (budaya) adalah yang utama.

      • Pemahaman usang tentang publikasi ilmiah lebih banyak yang diturunkan dari senior ke para yuniornya. Para yunior ini dalam waktu 10 tahun akan menjadi senior juga yang kemudian akan menurunkan paham usang yang sama.

    7. However, as stated by Pourret [18], a majority of the journals in geochemistry also have a green colour according to the SHERPA/RoMEO grading system, indicating that preprint (and the peer-reviewed postprint version) articles submitted to these journals can be freely shared on a preprint server, without compromising authors’ abilities to publish in parallel in those journals. Moreover, Pourret et al. [17] highlighted that the majority of journals in geochemistry allow authors to share preprints of their articles (47/56; 84%).
      • Bahwa sebagian besar jurnal di bidang geokimia, membolehkan pengarsipan modus hijau (Green OA), atau pengarsipan dokumen riset, data, makalah versi preprint di repositori nirlaba (misal repositori kampus).

      • Di tahun 2020, fakta ini masih belum banyak diketahui oleh para dosen/peneliti. Mereka cenderung menerima untuk dikendalikan oleh jurnal dalam proses publikasi, tanpa keinginan berargumentasi untuk mempertahankan hak miliknya terhadap makalah (to retain copyrights).

    8. The community should really be developing this, along with new standards for linking their datasets in the spirit of the FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable)

      Prinsip FAIR ini penting untuk diperhatikan. Referensi: Irawan dkk 2018.

    9. This all comes as part of a wider global shift towards more open research practices, and the geochemistry community needs to make sure it is engaging widely with these, as well as connected issues like research integrity and reproducibility, if it is to maintain its relevance in the modern research age.
      • Prinsip utama yang patut menjadi pegangan para peneliti/dosen masa depan adalah: keinginan pribadi (self-driven initiative) untuk menyebar-luaskan berbagai hasil risetnya secara luas.

      • Untuk itu teknologi digital dan internet harus dimanfaatkan dengan maksimal. Seringkali dosen/peneliti melupakan hal ini, bahwa internet ditemukan untuk mempercepat dan memperluas penyebaran ide.

      • Integritas riset dan reprodusibilitas adalah dua nilai yang perlu ditonjolkan agar relevan dengan kemajuan era internet, bukan hanya menonjolkan nama jurnalnya dan JIFnya.

    10. there is also strong encouragement to make code re-usable, shareable, and citable, via DOI or other persistent link systems. For example, GitHub projects can be connected with Zenodo for indexing, archiving, and making them easier to cite alongside the principles of software citation [25].
      • Teknologi Github dan Gitlab fokus kepada modus teks yang dapat dengan mudah dikenali dan dibaca mesin/komputer (machine readable).

      • Saat ini text mining adalah teknologi utama yang berkembang cepat. Machine learning tidak akan jalan tanpa bahan baku dari teknologi text mining.

      • Oleh karenanya, jurnal-jurnal terutama terbitan LN sudah lama memiliki dua versi untuk setiap makalah yang dirilis, yaitu versi PDF (yang sebenarnya tidak berbeda dengan kertas zaman dulu) dan versi HTML (ini bisa dibaca mesin).

      • Pengolah kata biner seperti Ms Word sangat bergantung kepada teknologi perangkat lunak (yang dimiliki oleh entitas bisnis). Tentunya kode-kode untuk membacanya akan dikunci.

      • Bahkan PDF yang dianggap sebagai cara termudah dan teraman untuk membagikan berkas, juga tidak dapat dibaca oleh mesin dengan mudah.

    11. In the near future, given the increase in the use and profile of preprint servers and alternative publishing platforms, such as F1000 Research, it will be necessary to identify how many relevant platforms exist, to describe their scientific scope (i.e., covered disciplines), and, similar to the way that researchers evaluate the aims and scope of journals, to compare their characteristics and policies.
      • Di sini kami memperlihatkan manfaat preprint dengan keleluasaanya (tanpa batasan format, ukuran, jenis berkas dll) akan memberikan dorongan bagi peneliti untuk mempublikasi data dan metode (misal kode program).

      • Ada banyak platform berbagi kode (seperti Github dan Gitlab yang membuka banyak pintu keterbatasan saat penulis ingin membagikan kode program.

      • Platform-platform ini juga mendukung proses berbagi dokumen dan data yang cari (fluid), karena semua orang dapat dengan mudah menggandakan (forking melalui perintah git clone) proyek seseorang untuk kemudian digunakan, dimodifikasi, dan pada akhirnya mungkin mereka meminta kreator orisinalnya untuk memasukkan modifikasi menjadi versi baru dari kode program.

      • Hebatnya semua proses itu tercatat dengan hubungan antara repositori dan akun yang jelas terlihat.

    12. In geochemistry, we know that around US$7,000,000 each year is spent on open access to journals [9], with virtually none of this being reinvested into the community itself or the community being reimbursed. Given the immense value of preprints, reinvesting this value into more sustainable community-led non-profit ventures, such as EarthArXiv, is of great potential.
      • Biaya (dalam bentuk APC) yang dikeluarkan untuk menerbitkan makalah sangat tinggi. Biaya tersebut adalah di luar (on top) dari biaya riset yang telah dikeluarkan oleh peneliti atau lembaga pemberi dana riset (funder).
      • Biaya publikasi merupakan proporsi anggaran untuk sebuah dokumen yang berada di bagian akhir dari siklus riset, bukan anggaran inti.
      • Akan lebih baik kalau anggaran publikasi tersebut, sebagian besar atau seluruhnya dialirkan untuk membiayai kegiatan inti, yaitu riset.
      • Referensi: MDPI APC, NCBI, Tabel, King 2007, Calaos, 2011
    13. Preprints evolution per month in biological sciences

      Grafik yang menunjukkan lonjakan jumlah makalah preprint di bidang biologi

      Lihat warna abu (Nature Preceedings), bahkan Nature juga membuka server preprint sendiri.

    14. This is a generic problem in scholarly publishing and affects the geochemistry community as much as other disciplines. Some research has shown that preprints tend to be of similar quality to their final published versions in journals [7].
      • Ilmu kebumian terdiri dari komponen atmosfer, lithosfer, dan hydrosfer, yang masing-masing telah membangun tubuh keilmuan (body of knowledge) sendiri.
      • Geokimia sendiri merupakan interaksi antara litosfer dan hidrosfer, tentunya ini akan memberikan kondisi yang berbeda lagi.
      • Kondisi itu membuat kebutuhan dan perilaku ilmuwan di masing-masing sub bidang ilmu akan berbeda-beda.
      • Namun demikian kebutuhan untuk memiliki media publikasi yang cepat, minim hambatan waktu (delay) sepertinya akan tetap sama.
    15. One of the reasons is the delay in the peer-review process and the subsequent publication
      • Salah satu kritik terbesar terhadap preprint adalah ketidakadaan peninjauan sejawat (Peer Review/PR).

      • Proses PR ini memang menjadi proses sentral dalam publikasi. Di luar manfaatnya, PR juga dapat merugikan, karena memberikan hambatan waktu.

      • Yang unik ada makalah yang memperlihatkan hasil bahwa banyak makalah versi terpublikasi memiliki isi dan tampilan tidak berbeda dengan versi preprintnya.

    16. In general, the Earth science community and its subcommunities have perhaps been a little slow in adopting the use of preprints. Several dedicated servers now exist, including EarthArXiv, ESSOAr, and paleorXiv, as well as InarXiv, which researchers use to share some research in the Indonesian language.

      Server preprint dapat dibagi berdasarkan:

      • model bisnis: laba dan nirlaba
      • inisiator: entitas bisnis dan komunitas
      • lingkup keilmuan: umum dan spesifik bidang ilmu tertentu (misal Paleorxiv, Earth Arxiv)
      • lingkup geografis: internasional, benua (Africaxiv, regional (Arabixiv), bahasa (Bahasa Perancis Frenxiv, atau satu negara (INArxiv)
    17. bioRxiv

      Bioarxiv (bio arkaif) adalah server preprint setelah ArXiv, sekaligus menjadi penanda (milestone) untuk kelahiran puluhan server preprint lainnya (termasuk INArxiv).

    18. A few months later, in August 1991, a centralized web-based network, arXiv (https://arxiv.org/, pronounced ‘är kīv’ like the word “archive”, from the Greek letter “chi”), was created. arXiv is arguably the most influential preprint platform and has supported the fields of physics, mathematics, and computer science for over 30 years.

      ArXiv (arkaif) adalah contoh lain dari teknologi preprint yang telah dikenalkan sejak tahun 1990.

      ArXiv = bidang fisika, matematika dan sains komputasi.

      Setelah era Arxiv, ada waktu kosong selama 15 tahun tanpa ada perkembangan jumlah server preprint.

    19. Preprints? What? Also sometimes referred to as e-prints, they are digitally shared, non-peer-reviewed scholarly articles that typically precede publication in a peer-reviewed journal [3]. They have been a part of science since at least the 1960s [4].

      Definisi preprint

      Preprint adalah makalah yang belum menjalani peninjauan sejawat yang versi digitalnya dibagikan secara daring. Preprint biasanya dibagikan sebelum dikirimkan ke jurnal.

      Preprint bukan barang baru

      Preprint telah dikenal sejak tahun 1960an (bidang biologi/ilmu hayati). Preprint merupakan salah satu produk turunan dari www yang diciptakan pada tahun 1990 oleh Tim Berners-Lee.

    1. research integrity and reproducibility, if it is to maintain its relevance in the modern research age

      Integritas riset dan reprodusibilitas adalah dua nilai yang perlu ditonjolkan agar relevan dengan kemajuan era internet, bukan hanya menonjolkan nama jurnalnya dan JIFnya.

    2. n the near future, given the increase in the use and profile of preprintservers, and alternative publishing platforms such as F1000 Researc
      • Di sini kami memperlihatkan manfaat preprint dengan keleluasaanya (tanpa batasan format, ukuran, jenis berkas dll) akan memberikan dorongan bagi peneliti untuk mempublikasi data dan metode (misal kode program).

      • Ada banyak platform berbagi kode (seperti Github dan Gitlab) yang membuka banyak pintu keterbatasan saat penulis ingin membagikan kode program.

      • Platform-platform ini juga mendukung proses berbagi dokumen dan data yang cari (fluid), karena semua orang dapat dengan mudah menggandakan (forking melalui perintah git clone) proyek seseorang untuk kemudian digunakan, dimodifikasi, dan pada akhirnya mungkin mereka meminta kreator orisinalnya untuk memasukkan modifikasi menjadi versi baru dari kode program.

      • Hebatnya semua proses itu tercatat dengan hubungan antara repositori dan akun yang jelas terlihat.

    3. Someresearch has shown that preprints tend to be of similar quality to their final published versions in journals
      • Salah satu kritik terbesar terhadap preprint adalah ketidakadaan peninjauan sejawat.

      • Proses PR ini memang menjadi proses sentral dalam publikasi. Di luar manfaatnya, PR juga dapat merugikan, karena memberikan hambatan waktu.

      • Yang unik ada makalah yang memperlihatkan hasil bahwa banyak makalah versi terpublikasi memiliki isi dan tampilan tidak berbeda dengan versi preprintnya.

    4. Several dedicated servers now exist, including EarthArXiv, ESSOAr, and paleorXiv, as well asInarXiv, which researchers use to share some research in Indonesian language.

      Server preprint dapat dibagi berdasarkan:

      • model bisnis: laba dan nirlaba
      • inisiator: entitas bisnis dan komunitas
      • lingkup keilmuan: umum dan spesifik bidang ilmu tertentu (misal Paleorxiv, Earth Arxiv)
      • lingkup geografis: internasional, benua (Africaxiv), regional (Arabixiv), bahasa (Bahasa Perancis Frenxiv), atau satu negara (INArxiv)
    5. bioRxiv

      Bioarxiv (bio arkaif) adalah server preprint setelah ArXiv, sekaligus menjadi penanda (milestone) untuk kelahiran puluhan server preprint lainnya (termasuk INArxiv).

    6. Preprints? What?Alsosometimesreferred to ase-prints, they are digitally-shared,non-peer-reviewed scholarly articles that typically precede publication in a peer-reviewed journal [3]. They have been a part of science since at least the 1960s [4]. In 1990, Tim Berners-Lee created the World Wide Web to help researchers share knowledge easily.

      Definisi preprint

      Preprint adalah makalah yang belum menjalani peninjauan sejawat yang versi digitalnya dibagikan secara daring. Preprint biasanya dibagikan sebelum dikirimkan ke jurnal.

      Preprint bukan barang baru

      Preprint telah dikenal sejak tahun 1960an (bidang biologi/ilmu hayati). Preprint merupakan salah satu produk turunan dari www yang diciptakan pada tahun 1990 oleh Tim Berners-Lee.

  6. Sep 2019
    1. Sungai Citarum di Jawa Barat, salah satu sungai terpanjang di Indonesia (hampir 270 km terbentang dari Situ Cisanti (KM-0) sampai di muara gembong di laut jawa): SALAH SATU TEMPAT TERCEMAR DI DUNIA (Green Cross Switzerland dan Blacksmith Institute, tahun 2013) yaitu pada urutan ketiga setelah Agbogbloshie (gunung sampah elektronik di Ghana, dan Chernobyl, kota yang mati akibat nuklir di Rusia.

      Semoga reputasi ini segera dapat diperbaiki.

    2. Studi Kasus Kota Aurangabad

      Terima kasih Pak Deny telah mengangkat kasus Kota Aurangabad. Kalau saya cari menggunakan Open Knowledge Maps yang saya simpan di sini, saya mendapati bahwa kota tersebut memang sudah lama mengalami masalah kontaminasi air. Bahkan sudah sampai mempengaruhi, lingkungan akuatik secara umum, vegetasi dan telah memicu wabah penyakit.

    3. Sayangnya, kerap terjadi kasus polusi airtanah dengan polutan berasal dari air sungai. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa ada 3 tipe relasi air sungai dengan akifer: (a) Sungai Influent — dicirikan air di sungai mengisi akifer antara lain melalui akifer di dasar sungai; (b) Sungai Effluent — dicirikan air di sungai diisi dari akifer antarà lain dalam bentuk mata air atau rembasan; (c) Sungai Isolated — dicirikan tidak ada hubungan antara air sungai dan akifer.

      Menarik tentang hubungan antara air tanah dan air sungai ini. Walaupun sudah banyak riset yang membahasnya, tetapi persepsi publik masih belum berubah banyak. Masyarakat umumnya akan melihat dua air tersebut tidak berhubungan, walaupun lokasinya ada di bantaran sungai. Perlu lebih banyak lagi tulisan-tulisan yang lebih ringan untuk mengubah persepsi masyarakat. Tidak banyak "orang normal" (baca masyarakat awam), yang membaca makalah yang terbit di jurnal ilmiah.

  7. anjani.ristekdikti.go.id anjani.ristekdikti.go.id
    1. Secara mendasar, pengabaian persentase kemiripan didasarkan pada tiga pertimbangan utama, yaitu: kebergantungan secara berlebihan pada jumlah kata atau panjang naskah karya ilmiah. kemiripan yang tidak perlu dipersoalkan tetapi turut terhitung sebagai kemiripan yang dipermasalahkan. pengabaian pada plagiat yang berupa parafrasa atau perubahan kata, yang membuat angka kemiripan yang dihasilkan menjadi kabur dan kurang akurat dalam menentukan taraf penyimpangan. Pada bagian berikut, dibahas ketiga alasan yang menjadi bahan pertimbangan pengabaian persentase kemiripan naskah dalam penentapan tingkat penyimpangan plagiat.

      Bagaimana ini dapat dievaluasi bila pembandingnya tidak text-mineable. Referensi tentang [text data mining}(https://libraries.wm.edu/blog/post/what-text-data-mining-tdm) sepertinya diperlukan.

    2. Pada Tabel 8, tingkat penyimpangan plagiat dibagi menjadi lima tingkatan, mulai dari kemiripan kurang dari dua kalimat yang tidak bersifat umum hingga kemiripan lebih dari 26 kalimat. Istilah lebih dari 26 kalimat ini bisa diartikan 30, 50, atau bahkan lebih dari 100 kalimat. Semua kemiripan di atas 26 kalimat diganjar dengan poin penyimpangan 260-300 poin. Batas atas untuk poin penyimpangan (300 poin) ditetapkan demi memastikan tidak ada penjatuhan sanksi yang berlebihan, ketika kemiripan yang ditemukan jauh melampaui ambang batas 26 kalimat.

      Bagaimana metode untuk menentukan angka-angka ini? Apakah berbasis bidang ilmu atau tidak, karena bidang humaniora atau hukum akan banyak menyampaikan kutipan. Metode yang disampaikan belum atau tidak reproducible untuk sebuah kebijakan publik.

    3. alah satu pertanyaan yang paling sering muncul terkait plagiat adalah seberapa banyak plagiat dapat diterima atau ditoleransi. Jawaban atas pertanyaan itu sebenarnya adalah nol. Artinya, plagiat sama sekali tidak diperkenankan dalam menghasilkan suatu karya. Yang disalahartiken di sini ialah bukan plagiat, melainkan kemiripan naskah secara tekstual. Persentase kemiripan naskah inilah yang kerap dijadikan patokan dalam penentuan batas kepatutan dalam penerimaan atau penolakan suatu karya ilmiah.

      Paragraf ini tidak jelas, terutama kalimat "Yang disalahartiken di sini ialah bukan plagiat, melainkan kemiripan naskah secara tekstual. "

    1. Artinya, adanya konflik kepentingan yang tidak diakui, mulai dari tidak mengakui sumber dana terkait pengiriman dan penerbitan naskah, proses melakukan sitasi atas sumber acuan, hingga proses pelaksanaan penelitian, diganjar poin penyimpangan antara 125 poin hingga 300 poin.

      Saya merasa item yang disebutkan di sini kurang jelas dan redundant dengan item yang ada pada klausul lain, misal plagiarisme.

      Bukankah masalah konflik kepentingan ini adaah beyond administratif, misal: seseorang yang bekerja di pabrik rokok tidak mengungkapkan bahwa ia bekerja di pabrik rokok saat mempublikasikan makalah yang menjelaskan bahwa rokok tidak membahayakan kesehatan.

    1. Fabrikasi dan falsifikasi dapat terjadi dalam hal data, gambar, dan referensi yang digunakan dalam menyusun karya ilmiah. Mengingat setidaknya ada tiga jenis objek penyimpangan fabrikasi dan falsifikasi, maka tingkat penyimpangan terhadap integritas akademik dapat ditentukan berdasarkan kombinasi dari beberapa jenis penyimpangan.

      Bagaimana fabrikasi dan atau falsifikasi dapat dideteksi kalau tidak berdasarkan dokumen yang dapat text-mineable?

      Bagaimana pula falsifikasi dapat dideteksi bila data yang ada dalam makalah (asumsi saya yang dievaluasi hanya makalah) bila tidak ada repositori data dengan akses terbuka?

    1. Penyerahan satu naskah pada beberapa jurnal sebenarnya dimungkinkan apabila dilakukan secara bergantian dan/atau disajikan dalam versi singkat dan disertai penjelasan sekaligus meminta tanggapan dari pengelola jurnal dan/atau penerbit sebelum mengirim versi lengkap.

      Kuncinya pengungkapan oleh penulis saat mengirimkan makalah.

    2. Kasus ini meliputi proses pengajuan satu naskah yang sama kepada beberapa jurnal yang berbeda dalam waktu bersamaan.

      "Beberapa jurnal" adalah kuncinya. Artinya preprint tidak termasuk di dalamnya.

    3. Tabel 13 belum ada narasinya.

  8. Jul 2019
    1. Agar kita dapat bersama-sama mendudukkan permasalahan Scopus ini dari sudut pandang yang lebih komprehensif. Tak buru-buru gentar, atau bahkan memusuhi Scopus. Dan selanjutnya dapat bersikap secara lebih arif dan positif.

      Sepertinya sudah jelas duduk masalahnya. Jadi tidak perlu duduk bersama. "Barang itu" diposisikan tidak pada posisinya. Bukan untuk pencarian informasi tetapi utamanya untuk mengukur reputasi. Jelas salah.

    2. Meski sepakat dengan sebagian besar yang beliau sampaikan

      Bagian mana yang Pak Aulia sepakat? Karena sepertinya semuanya tidak sepakat.

  9. Apr 2019
    1. Malik. Keren sekali ini. Beberapa catatan saya:

      1. apakah bisa dikirim ke Jurnal Geoaplika? :D Ini himbauan bukan permintaan :D
      2. Awan katanya (word cloud) bagus kalau orientasi katanya dibuat sama, mendatar semua.
      3. Data set (tabel metadata paper), bagus kalau diunggah online dan disitir juga dalam paper. Anda baru menyisipkan tautan ya.

      4. Data

  10. Mar 2019
    1. Buat apa sertifikasi penulis dan editor? Pastilah pertanyaan ini yang muncul di benak banyak pelaku perbukuan yang sudah nyaman dengan dunianya tanpa diusik-usik soal kompetensi. Namun, untuk meningkatkan marwah profesi ini jelaslah para penulis dan editor memerlukan pengakuan terhadap kompetensinya. Dalam sertifikasi profesi, seseorang yang sudah sangat senior di bidang penulisan tidak harus mengikuti serangkai uji kompetensi. Ia mungkin hanya perlu menunjukkan portofolio karyanya untuk diverifikasi, lalu diwawancarai.

      Apa hubungannya dengan marwah ya?

      Menulis buku non-fiksi kan hak semua orang.

      Kalau pada akhirnya ada buku yang diterbitkan dan tidak, maka itu adalah penilaian dari penerbit.

      Kalau pada akhirnya ada buku yang terbit dan banyak yang beli dan ada buku lain yang tidak laku, maka itu adalah penilaian dari pembaca.

      As simple as that ...

    2. Sayangnya di Indonesia, ilmu penerbitan yang menaungi ilmu penulisan dan ilmu penyuntingan baru diajarkan setingkat D-3 yaitu di Politeknik Negeri Media Kreatif.

      Persis! Saya setuju. Tapi ...

      Sertifikat vs sertifikasi, dua istilah yang berhubungan tapi dengan implikasi yang tidak sederhana.

    3. Karena itu, demi meningkatkan mutu dan standar penulisan maka diperlukan sertifikasi kompetensi bagi pelaku perbukuan.

      Saya masih tidak melihat hubungan antara meningkatkan kualitas dengan sertifikasi.

      Bahwa penulis perlu dilatih dan latihan, saya setuju. Tapi tidak untuk sertifikasi.

      Sertifikat memang bisa diberikan untuk seseorang yang lulus pelatihan. Tapi kalau sudah menggunakan kata "sertifikasi", maka akan muncul industri lain yang akan "merusak". Industri sertifikasi. Saat itu muncul akan terjadi "asal punya sertifikat". Ingat fenomena indeksasi di dunia akademik.

    4. Standar Kompetensi Kerja Khusus (SK3) untuk Penulis Buku Nonfiksi dan Editor

      Persis! Saya setuju. Tapi ...

      Baik. Sertifikasi ini khusus untuk Penulis Buku Nonfiksi dan Editor. Mari kesampingkan dulu bagian Editor.

      Menurut laman Ruang Guru, Buku Nonfiksi terdiri dari: buku biografi, buku literatur, buku motivasi, buku pendamping. Banyak yang tidak mau percaya kalau kawan sendiri yang bilang :). Coba anda cari secara daring tentang pembagian jenis buku non-fiksi. Ada banyak klasifikasi lain yang mirip atau sama dengan klasifikasi ini.

      Mari kita konsentrasi ke jenis "Buku Literatur" dan profesi kita sebagai dosen atau peneliti. Jenis "Buku Literatur". Bukankah ini adalah salah satu jenis buku yang dapat atau perlu dibuat oleh seorang dosen/peneliti.

      Lantas apakah seorang dosen/peneliti dianggap perlu mengikuti sertifikasi ini sebelum pada akhirnya dibolehkan menyusun buku?

      Ok. Mungkin anda akan bilang sertifikasi ini tidak wajib untuk dosen atau peneliti. Tapi dengan IKAPI dan Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia sudah mendukung sertifikasi ini, mestinya tipis batas antar wajib dan tidak wajib bagi para dosen/peneliti untuk mendapatkan sertifikat sebagai penulis.

    5. Penulis dan editor harus disertifikasi? Repot amat? Memang begitu seharusnya jika kita ingin bersama-sama menata profesi di bidang literasi ini menjadi terstandardisasi dan jelas dalam berbagai aspek. Artinya, ketika seseorang mengaku sebagai penulis buku nonfiksi ataupun editor, ia benar-benar teridentifikasi memiliki kompetensi seperti yang dipersyaratkan.

      Persis! Saya setuju. Tapi ...

      Ok, kompetensi adalah kata kuncinya. Lantas apakah perlu sampai dibuat sertifikasinya?

    6. Coba lihat fenomena betapa banyak orang mengaku ia adalah penulis buku dengan embel-embel berbahasa Inggris: author. Namun, ketika dites pengetahuan dan keterampilannya tentang penulisan buku, ia malah tidak menunjukkan kompetensi layak disebut author—ia bahkan hanya menunjukkan portofolio satu buku karyanya.

      Persis! Saya setuju. Tapi ...

      Kalau memang karyanya baru satu, apakah ia tidak bisa disebut penulis? Bukan bagi setiap orang, akan selalu ada kali pertama. Jadi saat ia pertama kali menghasilkan sebuah buku, ia tidak berhak disebut Penulis?

    7. Begitu juga dengan editor. Banyak sekali yang mengaku dirinya seorang editor dan mampu mengedit naskah. Namun, ketika diminta membedakan proses editing mekanis dan editing substantif, ia menjadi bingung sendiri. Belum lagi ketika ditanya tentang anatomi atau bagian-bagian tulisan yang harus diedit dan disusun sesuai dengan strukturnya, ia pun makin tidak mengerti.

      Persis! Saya setuju.

      Ok. Masalah istilah penyuntingan mekanis dan substantif, apakah sedemikian perlunyakah untuk diketahui? Katakan ada sebuah kalimat.

      "Budi sedang membaca buku, sedangkan Wati kakaknya sedang membantu ibu membacakan buku bagi adiknya Iwan."

      Katakan ada seorang yang tidak tersertifikasi sebagai penyunting, maka nalurinya akan muncul beberapa pertanyaan:

      1. jadi masing-masing karakter sedang melakukan apa?
      2. apakah dugaan saya ini betul:

      3. Budi sedang membaca buku

      4. Iwan sedang belajar membaca buku
      5. Ibu dan Wati sedang membantu Iwan membaca buku
      6. Wati, Budi, dan Iwan adalah kakak-beradik.

      Kalau itu benar, maka mungkin kalimatnya akan lebih bagus menjadi begini:

      "Budi sedang membaca buku. Iwan, adiknya, sedang belajar membaca buku pula. Bersama Ibu, Wati (kakak Budi) membantu Iwan belajar membaca buku."

      atau agar lebih ilustratif

      "Wati, Budi, dan Iwan adalah tiga bersaudara. Mereka bertiga gemar sekali membaca buku. Wati dan Budi sudah lancar sekali membaca. Itu karena mereka berdua sudah SD. Wati kelas 3 dan Budi kelas 1. Tapi Iwan, yang masih berusia 5 tahun, belum bisa membaca. Ia masih perlu bantuan. Sore itu, Ibu dan Wati sedang membantu Iwan belajar membaca. Mereka membacakan buku cerita dinosaurus yang seru untuk Iwan. "

      Nah, apakah istilah menyunting mekanis dan substantif masih penting untuk diketahui.

      OK bisa jadi penting.

      Rasanya setiap orang akan bingung membaca kalimat awal. Tapi kemudian (memang tergantung pengalaman), setiap orang akan merekomendasikan penyuntingan dan kalimat yang berbeda-beda. Lantas apa masalahnya? Kan tinggal pembaca atau penyunting akhir yang menentukan.

      Tapi apakah cukup alasan untuk kemudian dibuat sertifikasi penyunting?

      Jadi kata kuncinya jadi berubah pengalaman bukan sertifikat.

    8. standardisasi dalam dunia penerbitan masih kurang mendapatkan perhatian sehingga industri penerbitan menjadi industri kreatif yang tidak memiliki SKKNI/SKKK untuk mengukur kompetensi para pelaku perbukuan—kalah dengan industri pers.

      Persis! Saya setuju.

      Dalam kalimat ini, penulis menyatakan bahwa industri buku adalah industri kreatif. Kalau kemudian dalam industri itu ada banyak sekali aturan kaku, apakah lantas tetap menjadi industri kreatif?

      Nah, kalau dalam sebuah industri kreatif ada banyak peraturan dan standar yang kaku, apakah industri itu akan tetap menjadi "industri kreatif"?

      Contoh ya. Dalam kaidah penulis ilmiah, dulu sekali ada panduan untuk selalu menggunakan kalimat pasif. Apakah ini kemudian dapat membuat mahasiswa menjadi kreatif saat membuat kalimat.

      Ini pertanyaan dari saya. Penulis yang belum bersertifikat.

    9. Asosiasi profesi pelaku perbukuan di Indonesia boleh dikatakan sangat minim dan yang eksis hanya satu asosiasi penerbit yaitu Ikapi. Adapun asosiasi penulis dan editor pernah didirikan, tetapi kemudian hilang ditelan masa.

      Persis! Saya setuju.

      Kalau yang dimaksud adalah "asosiasi" yang berbadan hukum, tentu saja sedikit. Saya setuju. Tapi kalau yang dimaksud adalah komunitas, tentu buanyak sekali. Saat orang jawa bilang "buanyak", maka maksudnya banyak sekali.

      Bukankah sikap yang hanya mengakui asosiasi berbadan hukum ini juga adalah salah satu hal yang membatasi lingkup berpikir kita? Apakah hanya pendapat orang-orang dari lembaga yang berbadan hukum saja yang layak untuk didengar?

    1. Curug Malela di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat adalah lokasi wisata paling penting diKabupaten Bandung Barat bagian selatan. Air terjun dengan lebar lebih 70 meter dan tinggi 50 meter ini juga disebut Niagaravan Java. Selain Curug Malela, di bagian hilir juga ditemukan air terjun lain yang tak kalah menarik seperti Curug Katumiri,Curug Manglid, Curug Sumpel, Curug Ngebul, dan Curug Palisir. Untuk mengembangkan Curug Malela, pendekatangeowisata dilakukan dengan mengembangkan jalur geotrek di Curug Malela. Selama ini hanya ada satu jalur di Curug Malelasehingga wisatawan yang berkunjung ke Curug Malela datang dan pergi melalui jalur yang sama. Jalur baru diusulkan untukmembuat geotrek dengan lintasan tertutup di Curug Malela. Jalur ini membuka akses kepada air terjun lain di hilir CurugMalela sekaligus membuka peluang ekonomi bagi kampung yang dilewati oleh jalur ini.

      Abstrak sepertinya perlu dielaborasi dengan latar belakang yang cukup tentang kondisi pariwisata di Jawa Barat.

  11. Jan 2019
    1. The issue we seek to address is whether or not work already publicly available in a thesis

      pertanyaan ini tidak hanya diajukan oleh orang indonesia.

    1. Ketika artikel terbit di jurnal bereputasi, akan menarik perhatian kolega ilmuawan dunia bila dibandingkan dengan terbitnya artikel kita di prosiding seminar.

      Ilmuwan yang benar, tidak akan mudah menerima label. Begitu pula ilmuwan dunia yang baik akan membaca makalahnya, bukan jurnalnya. Bahwa mengenali jurnal yang baik dan tidak baik sangat membantu seleksi, tetapi perlu disadari, di dunia daring saat ini, saat mencari informasi, kita langsung akan menemukan makalahnya, tidak menemukan jurnal atau majalahnya dulu, baru makalahnya. Jadi sudah saatnya perilaku kita diubah.

    2. Bagi para ilmuwan dunia, prosiding bukan tempat mereka mempublikasikan hasil penelitiannya. Jurnal sekelas Nature dan Science itulah yang mereka impikan dan layak diimpikan setelah kita terbiasa menulis dengan kualitas tinggi.

      Nah di sini saya tidak setujunya. Pada ranah kegiatan yang lain, kita sangat kritis terhadap suatu produk atau merek. Apakah ini bernilai atau malah overrated. Untuk sisi kehidupan yang lain pula kita sangat marah kalau diri kita dieksploitasi. Tapi untuk hal-hal yang prinsipal dalam riset dan publikasi, kok kita tidak berlaku sekritis itu? Silahkan direnungkan sendiri.

    3. Sebaiknya, Kementerian Ristekdikti tidak hanya menjadikan kuantitas publikasi dan skor H-index Scopus sebagai tolak ukur keberhasilan program penelitian dan publikasi internasional. Kualitas artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal internasional bereputasi lebih bermakna. Untuk rekan sejawat dosen Indonesia, alangkah baiknya kita berlomba meningkatkan kualitas hasil penelitian dan publikasi ilmiah. Rentang waktu yang agak lama ketika proses revisi naskah ilmiah oleh para reviewer mari kita sikapi sebagai proses peningkatan kualitas saintifik kita.

      Saya masih setuju sampai sini. Untuk paragraf kedua, di sinilah peran preprint (atau versi pra cetak). Silahkan kirim ke jurnal manapun, tapi jangan lupa anda juga punya hak untuk mempublikasikannya seawal mungkin, tanpa ada batasan peninjauan sejawat. Manfaatkan hak itu.

      Aktivitas mengunggah preprint atau dokumen apapun ke media yang diindeks oleh mesin pencari (misal Google Scholar) akan menyebabkan seolah karya anda membengkak. Jangan khawatir. Kalau memang kegiatan anda banyak, ya wajar banyak dokumen yang dihasilkan. Mesin pencari atau pengindeks tugasnya menemukan dokumen itu saat kawan atau kolega anda mencari informasi. Itu saja tugas. Ia tidak bertugas memberikan skor atau nilai kepada dokumen anda. Jadi untuk apa memprotes seseorang yang terlalu banyak mengunggah dokumen daring. Lebih baik instrumen pengindeksnya saja yang dimatikan. Toh bukan itu tujuannya dibuat awalnya.

    4. Mengatrol skor sitiran

      Untuk hal ini saya tidak berkomentar selain bahwa ini salah. Tapi perlu dipahami juga bahwa ini terjadi karena sistem. Jadi tidak bisa kita berpendapat, "kok jadi sistemnya yang salah". Sistem adalah segalanya, khususnya di Indonesia. Anda membuat sesuai, maka akan terjadi dua hal plus dan minus. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara.

    5. Proses penerbitan hasil penelitian di jurnal menuntut kesabaran dan ketekunan. Telaah dari penelaah sejawat yang rinci kadang membuat peneliti hilang kesabaran. Sebagian dari peneliti merasa hasil yang didapatkannya sudah terbaru dan sempurna. Tapi tidak jarang editor dan penelaah sejawat menyatakan sebaliknya. Terbitnya naskah ilmiah pada jurnal bereputasi internasional memerlukan tahapan yang bisa mencapai satu atau bahkan dua tahun.

      Setuju untuk ranah penelitian. Tapi untuk ranah publikasi, saya berpikir bahwa hak setiap peneliti untuk menerbitkan hasil kerjanya dalam format apapun. Makalah jurnal peer-reviewed adalah salah satu saja luarannya. Saya tidak mendorong orang untuk tidak mengirimkan makalah ke jurnal, saya juga berpendapat peninjauan sejawat penting, tapi tidak sampai harus menghalangi niat peneliti untuk publikasi. Pendapat saya ini adalah penelitian atau publikasi secara umum, di luar ranah penilaian angka kredit dan kenaikan jabatan. Kalau untuk dua hal itu, memang proses administratif masih diperlukan, di sini syarat terindeks ini dan itu menjadi penting. Walaupun saya tidak setuju, tapi saya masih bisa memahami itu perlu dilakukan. Asal kriterianya jelas dan tidak berubah-ubah.

    6. Kementerian juga tiap tahun menyelenggarakan klinik penulisan artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional bereputasi. Dosen dipersilakan untuk mengirimkan naskah yang sudah dibuat dan seleksi diadakan berdasarkan naskah yang masuk. Penyelenggaraannya di berbagai kota di Indonesia dan setiap kegiatan diikuti 50 orang peserta. Pada 2018 Kementerian mengadakan kegiatan 10 klinik penulisan artikel, antara lain di Bogor, Bandung, Padang, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, dan Makassar.

      Saat ini ada kecenderungan (setelah kasus SINTA) bahwa kegiatan-kegiatan sejenis yang diselenggarakan oleh pribadi atau kelompok akan berkaitan dengan aktivitas mis-conduct. Ini perlu diluruskan oleh Kemristekdikti.

    7. Para dosen kerap mengatakan bahwa terbatasnya akses terhadap publikasi yang sudah terbit merupakan salah satu faktor penyebab dari ketiadaan ide baru. Kementerian Ristekdikti telah mencoba mengatasi masalah ini sejak 2015 dengan berlangganan jurnal-jurnal ilmiah internasional.

      Ini memang masalah lain. Banyak yang tidak tahu bahwa jumlah makalah akses terbuka terus meningkat setiap tahun. Bahkan untuk makalah yang berbayar, sudah ada kesadaran yang makin meningkat dari penulis untuk mengunggah pula versi pracetak (atau pra peninjauan) ke media-media repositori yang terbuka. Dari sisi penulis, saya juga menghimbau dengan sangat kesadaran mengenai hak cipta dan hak intelektual lainnya yang mereka miliki. Hak yang harus mereka manfaatkan untuk kepentingan masyarakat, bukan hanya diserahkan seluruhnya kepada penerbit, terutama penerbit komersial.

    8. Banyak kelemahan yang ditemukan Dian ketika menelaah proposal penelitian yang masuk. Ide yang ditawarkan banyak yang kurang kreatif dan aktual. Ada juga yang hanya merupakan duplikasi atau daur ulang dari penelitian sebelumnya.

      Apakah hasil peninjauan ini terbuka untuk umum dan diberikan juga kepada peneliti? Maaf kalau saya keliru, saya setiap tahun mengirimkan proposal ke Kemristekdikti, tapi hasil peninjauan secara lengkap belum pernah saya terima.

  12. Dec 2018
    1. Water Sources Quality in Urban Slum Settlement along the Contaminated River Basin in Indonesia: Application of Quantitative Microbial Risk Assessment

      Komentar umum:

      • Makalah ini mampu menggambarkan kontaminasi fecal ke dalam air sumur yang dikonsumsi oleh warga.
      • Penulis telah memilih kawasan yang tepat, kawasan slum (kumuh), yang seringkali menjadi korban dan sekaligus juga penyebab dalam kasus kontaminasi fecal karena minimnya akses ke air bersih dan fasilitas sanitasi. Walaupun sebagian besar rumah di kawasan tersebut telah memiliki kamar mandi dan jamban di dalam rumah, tapi pengolahan limbahnya belum memenuhi syarat, yang akibatnya dapat mengotori air tanah sekitarnya dan juga air sungai (dalam kasus ini adalah S. Cikapundung).
      • Peta perlu dimasukkan ke dalam makalah atau penulis membuat repositori tambahan sebagai pelengkap artikel. Presentasi geospasial sangat penting dalam kasus ini untuk menggambarkan distribusi kontaminasi dan intensitasnya.
    1. ABSTRAK

      **Complete review in Indonesian language (Tinjauan lengkap dalam Bahasa Indonesia)

      Catatan dari peninjau**

      Saya memilih untuk meninjau makalah dari Indonesia, ditulis dalam Bahasa Indonesia oleh orang Indonesia untuk memperlihatkan kepada komunitas sains internasional keragaman ilmu, bahasa, konteks lokal yang melatarbelakani sebuah makalah, dan tingkat sains yang dikuasai penulis atau yang tersedia fasilitasnya di perguruan tinggi sebagai dasar dari penulisan suatu makalah. Di sini saya juga menekankan bahwa penunjau (reviewer) tidak boleh dipengaruhi oleh perspektif umum ketertinggalan suatu bangsa dalam sains dan menggunakannya untuk menilai suatu makalah. Peninjau perlu melihat pula sumbangsih makalah kepada kebutuhan atau masalah lokal. Tidak semua makalah ditulis untuk menyelesaikan masalah dunia.

      Saya akan menuliskan tinjauan umum dalam Bahasa Inggris dan Indonesia, dan menuliskan komentar spesifik di beberapa lokasi menggunakan Bahasa Indonesia.

      Komentar umum Makalah ini sangat penting untuk kondisi Indonesia saat ini yang secara terus-menerus didera bencana alam, karena itu makalah ini perlu diekspos di media. Dihubungkan dengan krisis tsunami Selat Sunda saat ini, produk ini sangat relevan dan dibutuhkan. Pengujian lebih lanjut pada berbagai lingkungan lokal akan meningkatkan disain tenda, pemilihan material dan teknik mendirikannya. Teknik mendirikan tenda juga perlu menjadi salah satu variabel uji mengingat lahan terdampak tsunami biasanya akan tertutup lapisan lumpur tebal yang lunak. Kerjasama dengan peneliti dengan latar belakang ilmu material akan sangat baik untuk meningkatkan spesifikasi tenda versi selanjutnya.

      Komentar spesifik Metode: Tim penulis perlu memasukkan proses seleksi material secara lebih rinci ke dalam makalah, karena ini adalah bagian terpenting, menurut saya. Fakta bahwa dokumen ini berdasarkan riset multi tahun perlu ditekankan oleh tim penulis, salah satunya adalah dengan menyitir dokumen sebelumnya dan mengunggahnya secara daring sebagai material pendukung.

      Pengembangan lebih lanjut: Makalah ini perlu dikembangkan dengan menambahkan variabel kondisi lapangan lokal ke tahap pemilihan bahan dan teknik mendirikannya di lokasi. Tim penulis juga perlu menguji material, disain, dan teknik mendirikannya berdasarkan standar tenda yang saat ini ada: misal dari UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees), IFRC (International Federation of Red Cross). Bilamana SNI (Standar Nasional Indonesia) atau BNPB dan Basarnas telah memiliki standar serupa, saya mendorong tim penulis untuk menggunakannya. Untuk memberikan informasi lebih banyak kepada pembaca, saya menyarankan tim penulis untuk mengunggah dokumen/laporan sebelumnya dan material tambahan lainnya ke server OSF (karena OSF membolehkan unggahan berbagai jenis dokumen dan format). Akan sangat menarik bila tim penulis dapat menguji tenda langsung di lokasi terdampak bencana dan mengundang lembaga terkait untuk memberikan tinjauan (misal dari BNPB atau Basarnas). Berbagai komparasi dengan tenda yang saat ini ada dan digunakan oleh BNPB/Basarnas akan sangat strategis untuk ditambahkan ke dalam makalah selanjutnya. Berbagai kelebihan dan kekurangan disain tenda ini perlu dieksplorasi untuk meningkatkan kualitas tenda versi selanjutnya. Saya menyarankan kerjasama antara tim penulis dengan ahli material untuk meningkatkan kualitas tenda versi berikutnya.

      Komentar penutup

      Dengan mempublikasikan riset ini dalam Bahasa Indonesia, tim penulis menekankan untuk berkontribusi secara langsung kepada masyarakat, alih-alih, mengejar reputasi personal dengan mempublikasikannya di jurnal internasional.

    2. POROS MARITIM DUNIA DAN BENCANA TSUNAMI : PENGEMBANGAN AIR INFLATED STRUCTURE SEBAGAI FASILITAS TANGGAP BENCANA

      Notes from reviewer

      I choose to review an article from Indonesia and written by Indonesians to show international readers the diversity of science, language, local context as the background of the paper, and the level of science that plays as the basis of the papers. Here I also point out that reviewers should not be influenced by common perspective on the level of science in SE Asia (especially Indonesia) and then use that measurement to assess the paper, rather, the reviewers should understand the benefits of the paper for local problems. Not all papers were written to solve the world's largest problem.

      I will be writing the overview of the comment in English and Indonesian language and write more specific comments in various locations only in Indonesian language.

      General comment

      • This paper is very important to the current situation in Indonesia, which suffering from many and continuous geohazards, hence this paper should be properly exposed in Indonesian media, concerning current tsunami situations.

      • More testing in various local environments should be conducted to improve the tent's design and how to set it up under eg: soft ground after tsunami.

      Specific comments

      • Methods:

        ** the author should include the material selection process in the method, because this is the most important bit in this paper. The fact that this was a multi years project should be pointed out in form of citation to the previous documents.

      • Future development:

        **this article should be developed further by including the variability of local condition to the material selection process.

        ** the authors should also test the material and design with the existing standards for shelters, eg: from UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees), IFRC (International Federation of Red Cross).

        ** to give more information, I suggest the authors to upload the previous documents/reports and all suplementary materials to the OSF (since the OSF allows them to upload multiple files in various formats).

        ** it would be interesting as well to test out the tent in the field and share the comments from the authorities (eg BNPB or Basarnas).

      Closing comment

      By publishing this research in Indonesian language, the authors have made their main point to directly contribute to the society instead of only chasing their fame by publishing it in international journal.

  13. Nov 2018
    1. Hi Gerra. Terima kasih sudah menggunakan layanan INArxiv.

      Ini tugas kuliah? Bagus. Pada kesempatan berikutnya, bisakah ditambahkan ada studi kasus.

    1. Penerbit tradisional kerap membela kerja mereka dengan alasan mereka susah payah memilih studi yang mereka yakini memiliki relevansi terbesar. Namun Dawson menampik hal ini dengan mengatakan, "Google saat ini adalah mesin pencari paling populer untuk sains - ini cara kerja sains zaman sekarang."

      Exactly. When people needs something, they can always search their way online, directly to the articles not journals. And they can always think and review the articles themselves to decide their relevance and importance to the works conducted.

    1. Untuk mencapai target tersebut, kata Syawal dirinya pun menerapkan sejumlah strategi. Ada tiga Program strategi yang sudah dirancangnya untuk meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian di UNIMED.

      Tidak ada langkah strategis yang membina risetnya. Padahal riset adalah pangkal dari makalah. Lantas apa bedanya dengan sebelumnya. Luaran yang pasti tercapai hanya jumlah dan peringkat.

    2. "Untuk tahun 2018 ini kita memang  targetkan minimal 400 jurnal yang terindeks Scopus di luar prosiding," ujarnya kepada Tribun Medan, Senin  sore (1/10/2018).

      Sudah lebih baik, dengan mentargetkan jumlah artikel (di luar prosiding), tetapi tetap saja berbasis Scopus. Lantas apa bedanya. Langkah ini tetap akan hanya mendata artikel berbahasa Inggris (persepsi orang Indonesia).

    1. namun

      Fenomena yang mirip juga kami temukan di kawasan Talagasari. Di lokasi tersebut ditemukan dua matair dengan debit kurang lebih 600 ml/detik dan 30 an sumur gali dengan kedalaman sumur dari 1 sampai 7 meter. Dari pengamatan kami pada bulan Mei 2018 (musim kemarau), seluruh obyek tersebut memperlihatkan adanya aliran air. Dari sini, kami dapat simpulkan bahwa ini menjadi salah satu indikasi bahwa dari kuantitas, tidak ada masalah.

      Namun demikian di sisi kualitas, kami memang menemukan satu mata air yang terletak di daerah Cinta Mekar, yang keruh. Sementara ini, kekeruhan itu diduga berasal dari erosi bawah permukaan. Hasil pengamatan geologis menyimpulkan bahwa area tersebut tertutup oleh batuan breksi vulkanik. Erosi diperkirakan terjadi di bagian dalam bebatuan yang masih lunak (matriks/masa dasar, menurut terminologi geologi).

    2. “Kampung kami di daerah pegunungan, bukannya sulit air namun air yang ada tidak bersih. Mandi, mencuci, air minum, masak, sampai buang air semuanya di situ. Kadang juga kalau musim kemarau sering surut, nah pas itu baru susah airnya,” tutur Agus kepada detikHealth, saat ditemui dalam kunjungan bersama Aqua di Kampung Nyalindung, seperti ditulis Senin, (25/8/2014).

      Fenomena yang mirip juga kami temukan di kawasan Talagasari. Di lokasi tersebut ditemukan dua matair dengan debit kurang lebih 600 ml/detik dan 30 an sumur gali dengan kedalaman sumur dari 1 sampai 7 meter. Dari pengamatan kami pada bulan Mei 2018 (musim kemarau), seluruh obyek tersebut memperlihatkan adanya aliran air. Dari sini, kami dapat simpulkan bahwa ini menjadi salah satu indikasi bahwa dari kuantitas, tidak ada masalah.

      Namun demikian di sisi kualitas, kami memang menemukan satu mata air yang terletak di daerah Cinta Mekar, yang keruh. Sementara ini, kekeruhan itu diduga berasal dari erosi bawah permukaan. Hasil pengamatan geologis menyimpulkan bahwa area tersebut tertutup oleh batuan breksi vulkanik. Erosi diperkirakan terjadi di bagian dalam bebatuan yang masih lunak (matriks/masa dasar, menurut terminologi geologi).

  14. Sep 2018
    1. Advances In Natural And Applied Sciences

      Yth para penulis selamat atas terbitnya publikasi. Ada dua catatan dari saya selaku pengelola INArxiv:

      1. cek kembali perjanjian pengalihan hak cipta dari penulis ke penerbit, apakah dibolehkan mengunggah artikel dengan logo penerbit?
      2. akan lebih bagus kalau data mentah diunggah ke INArxiv sebagai suplemen dari artikel.
    1. Copyright © 2018A. P. U. Siahaanet al. This isan open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which per-mits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.International Journal of Engineering & Technology, 7 (4) (2018) 2113-2117International Journal of Engineering & TechnologyWebsite: www.sciencepubco.com/index.php/IJET doi: 10.14419/ijet.v7i4.14020Research paperArduino Uno-based water turbidity meter using LDR and LED sensors

      Yth para penulis. Ini artikel menarik. Selamat sudah terbit. Namun demikian mohon dicek perjanjian pengalihan hak cipta ke penerbit IJET, karena yang ibu dan bapak unggah ini adalah yang versi penerbit (ada logo dll). Terima kasih.

  15. Jul 2018
    1. material transfer agreement (MTA)

      Mengenai MTA ini sempat lolos dari perhatian saya saat menyusun RDMP (research data management plan) untuk universitas saya. Saat saya cari info dengan kata kunci "regulasi material transfer agreement", saya hanya mendapatkan satu regulasi dari Kementerian Pertanian. Ini mestinya ada dalam Permen tentang Penelitian.

    2. RISTEK says it wants to promote research collaborations

      Kalau kolaborasi yang ingin ditonjolkan, maka mau tidak mau regulasi tentang penelitian perlu segera dirumuskan. jangan sampai artikel ini terulang, juga artikel yang ini.

    3. MTA

      Ok tentang MTA ini, saya perlu meralat pernyataan sebelumnya yang hanya menemukan regulasi MTA dari Kementan. Hasil pencarian di sini memunculkan sumber informasi tentang MTA yang lebih lengkap dari LIPI. Kemudian, bagian mana dari regulasi formal (yang ada dalam taksonomi regulasi Indonesia) yang mengarah ke dokumen MTA LIPI ini?

    4. The team may also have run afoul of regulations when it shipped DNA samples to Copenhagen for analysis. Ilardo says she filed a material transfer agreement (MTA)—a contract governing the shipment of research samples—with her application to RISTEK. But for the transfer of human DNA, she should have sought approval from the National Institute of Health Research and Development in Jakarta, says Siswanto, who chairs that institute. "If this was a requirement, I would have expected that RISTEK would have told me if my MTA was invalid when I submitted it," Ilardo says.

      Paragraf ini menunjukkan pentingnya Indonesia memiliki regulasi, setingkat Peraturan Menteri atau mungkin Undang-Undang tentang Penelitian, yang mengatur seluruh sisi riset dari sejak perencanaan, implementasi, pelaporan dan penyebaran informasi. Termasuk di dalamnya adalah tentang pola kerjasama dengan peneliti luar negeri.

    5. Some Indonesian scientists, meanwhile, are miffed that the only Indonesian name on the paper is that of Suhartini Salingkat, an education researcher at Tompotika Luwuk Banggai University, a small private institution in Central Sulawesi; according to the paper, she "provided logistical support." Foreign teams "should involve Indonesian scientists in all stages of research," says Mohamad Belaffif, an Indonesian bioinformatician at the HudsonAlpha Institute for Biotechnology in Huntsville, Alabama.

      Saya sangat setuju dengan pernyataan "should involve Indonesian scientists in all stages of research". Dari pengalaman saya, ini akan terjadi bila ada partisipasi aktif dari para peneliti Indonesia yang dikontak oleh peneliti asing. Sering kali ini tidak terjadi. Paham bahwa "pihak pembawa dana" adalah yang berkuasa masih sangat melekat di benak peneliti DN, ini menyebabkan inisiatif menjadi rendah. Padahal, setidaknya di lingkungan saya, peneliti asing sangat membuka diri untuk ide dari peneliti DN. Komunikasi sangat penting di sini.

      Masalah kedua adalah visibilitas dari peneliti DN yang relevan masih rendah. Peneliti asing akan mengalami kesulitan mencari mitra peneliti yang kompeten. Untuk itu saya sangat mendorong agar para peneliti dapat lebih mengeksplorasi dan mengekspos keahliannya di media masa, media sosial dalam bentuk blog atau media lainnya.

    6. RISTEK says it wants to promote research collaborations

      Kalau kolaborasi yang ingin ditonjolkan, maka mau tidak mau regulasi tentang penelitian perlu segera dirumuskan. jangan sampai artikel ini terulang, juga artikel yang ini.

    7. Some Indonesian scientists, meanwhile, are miffed that the only Indonesian name on the paper is that of Suhartini Salingkat, an education researcher at Tompotika Luwuk Banggai University, a small private institution in Central Sulawesi; according to the paper, she "provided logistical support." Foreign teams "should involve Indonesian scientists in all stages of research," says Mohamad Belaffif, an Indonesian bioinformatician at the HudsonAlpha Institute for Biotechnology in Huntsville, Alabama.

      Saya sangat setuju dengan pernyataan "should involve Indonesian scientists in all stages of research". Dari pengalaman saya, ini akan terjadi bila ada partisipasi aktif dari para peneliti Indonesia yang dikontak oleh peneliti asing. Sering kali ini tidak terjadi. Paham bahwa "pihak pembawa dana" adalah yang berkuasa masih sangat melekat di benak peneliti DN, ini menyebabkan inisiatif menjadi rendah. Padahal, setidaknya di lingkungan saya, peneliti asing sangat membuka diri untuk ide dari peneliti DN. Komunikasi sangat penting di sini.

      Masalah kedua adalah visibilitas dari peneliti DN yang relevan masih rendah. Peneliti asing akan mengalami kesulitan mencari mitra peneliti yang kompeten. Untuk itu saya sangat mendorong agar para peneliti dapat lebih mengeksplorasi dan mengekspos keahliannya di media masa, media sosial dalam bentuk blog atau media lainnya.

    8. The team may also have run afoul of regulations when it shipped DNA samples to Copenhagen for analysis. Ilardo says she filed a material transfer agreement (MTA)—a contract governing the shipment of research samples—with her application to RISTEK. But for the transfer of human DNA, she should have sought approval from the National Institute of Health Research and Development in Jakarta, says Siswanto, who chairs that institute. "If this was a requirement, I would have expected that RISTEK would have told me if my MTA was invalid when I submitted it," Ilardo says.

      Paragraf ini menunjukkan pentingnya Indonesia memiliki regulasi, setingkat Peraturan Menteri atau mungkin Undang-Undang tentang Penelitian, yang mengatur seluruh sisi riset dari sejak perencanaan, implementasi, pelaporan dan penyebaran informasi. Termasuk di dalamnya adalah tentang pola kerjasama dengan peneliti luar negeri.

    9. material transfer agreement

      Mengenai MTA ini sempat lolos dari perhatian saya saat menyusun RDMP (research data management plan) untuk universitas saya. Saat saya cari info dengan kata kunci "regulasi material transfer agreement", saya hanya mendapatkan satu regulasi dari Kementerian Pertanian. Ini mestinya ada dalam Permen tentang Penelitian.

    1. How to Extend your Data Lifetime: Research DataManagement in Indonesia’s Contexts

      This paper should the first paper from Indonesian authors to raise the issue of RDMP.

    1. This article was also intended to give an example of data re-use in hydrogeology.

  16. Jun 2018
    1. Google Scholar still has limitations in detecting areas of interest and incorrect research, as well as problems correctly identifying publications on the arXiv initial print server. The inclusion of characters between characters in the title resulted in incorrect search results, and inputting the authors of the wrong paper led to additional wrong search results. Some search results are even given for no understandable reason

      Pendapat ini masih berasal dari referensi, apakah penulis pernah atau merencanakan untuk melakukan pengujian sendiri?

    2. regardless of their contribution to the publication

      Apakah ada indeksasi yang mampu mendeteksi kebenaran kontribusi riil para penulis, kecuali dari pengakuan sepihak dari para penulisnya sendiri?

    3. They concluded that Google Scholar should be used with caution, especially for calculating performance metrics such as the h-index or impact factor.

      Demikian pula metrik yang lain, termasuk indeksasi Scopus dan Impact Factor, sangat rawan dan mudah dimainkan. Berapa persen dari moderasi Tim Scopus yang berhasil menyeleksi entri-entri yang "berkualitas rendah"?

    4. Citation frequency may reflect a journal’s value, authority, and use.

      Sepertinya ini berkebalikan dengan bagian lain dari artikel ini yang menyebutkan bahwa jumlah sitasi sangat rawan dan mudah untuk "dimainkan". Sitasi adalah hanya masalah seseorang, menuliskan artikelnya (baik milik orang lain atau miliknya sendiri) ke dalam Daftar Pustaka. Bagaimana mekanisme penghitungan metrik seperti ini dapat digunakan untuk menilai kualitas karya atau kepakaran seseorang secara langsung?

    5. Google Scholar proved to be easily manipulated, and included a number of duplicate citations.

      Bagian mana dari analisis yang mengarah ke sini?

    6. Beberapa pertanyaan selanjutnya untuk pengembangan artikel yang berikutnya:

      1. jurnal yang baru didirikan, berasal dari mana, atau terbit di negara mana?
      2. bagaimana tingkat relevansi artikel yang menyitirnya?
      3. "citation" vs "self-citation" apakah berasal dari jurnal yang sama atau berbeda?
      4. Jika dibandingkan dengan luaran penelitian lainnya, bagaimana posisi artikel "peer-reviewed" ini?
      5. Bagaimana pengembangan SINTA di masa mendatang, bercermin dari hasil ini, juga dengan keanggotaan Kemristekdikti ke ORCID?
    7. Fig1 Fig2

      Menarik kalau ada yang menghubungkan tingginya sitasi jumlah pendidikan teknik dengan jumlah mahasiswa atau dosen/peneliti di bidang ini. Apakah berhubungan atau tidak? Akan lebih menarik lagi kalau ada yang mencari tahu apakah sitasi tersebut berasal dari penulis Indonesia atau artikel yang terbit di jurnal dalam negeri (DN) atau dari penulis/artikel luar negeri (LN).

    8. The mean proportional difference in the citation frequency between Scopus and Google Scholar was 14.71%

      Apakah perbedaan ini tergolong kecil atau tidak signifikan? Bila hasil ini konsisten pada berbagai kasus, apakah kemudian untuk alasan ekonomis, cukupkah bagi kita di masa mendatang untuk kemudian mendasarkan diri ke GS saja?

    9. This was a descriptive study based on the analysis of a literature database.

      Akan lebih baik bila dirinci kembali tahapannya, agar terbuka peluang lebih besar bagi pembaca untuk berkontribusi memperkaya artikel ini. Saat ini isu reproducibility merebak luas secara internasional.

    10. Journals in the engineering field were the most cited, with 2,427 citations, including 930 self-citations.

      Ini akan menjadi menarik, ketika ada yang membantu mengevaluasi sitasi-sitasi tersebut, termasuk sitasi-pribadinya.

    11. Citation performance of Indonesian scholarly journals indexed in Scopus from Scopus and Google Scholar

      Salam dan terima kasih untuk Tim Penulis.

      Secara umum artikel ini patut dihargai, karena penulis telah meluangkan waktu dan tenaga untuk menuangkan hasil penjaringan informasi sitasi dari Google Scholar (GS) dan Scopus yang telah diagregasi SINTA.

      Artikel ini bersifat deskriptif, yang mana artikel jenis ini sering terlupakan, padahal fakta-fakta menarik akan muncul setelah data dan grafik terpampang rapih dalam bentuk artikel. Semoga artikel ini dapat menggugah banyak pendapat yang bersifat argumentatif yang kemudian dapat melahirkan artikel-artikel baru.

      Perkenankan saya meninggalkan beberapa catatan untuk artikel ibu dan bapak ini.

    1. Jon Tennant
    2. DORA dan Leiden Manifesto.
    3. Para peneliti memilih untuk mengurangi komponen kepemilikan (ownership) dalam authorship dan menambah komponen kolaborasi.

      Para peneliti memilih untuk mengurangi komponen kepemilikan (ownership) dalam authorship dan menambah komponen kolaborasi.

      Direvisi menjadi: Para peneliti memilih untuk mengurangi komponen kepemilikan (ownership) yang secara implisit muncul dalam authorship dan menambah komponen kolaborasi.

    4. Publikasi jurnal sudah bukan lagi satu-satunya cara mempublikasikan hasil telaah saintifik.

      Publikasi jurnal sudah bukan lagi satu-satunya cara mempublikasikan hasil telaah saintifik.

      Direvisi menjadi: Publikasi artikel dalam jurnal sudah bukan lagi satu-satunya cara mendiseminasikan hasil telaah saintifik.

    5. Saya bahkan bisa berkirim surel dengan mitra warga asli Ethiopia menggunakan SoS.

      Saya bahkan bisa berkirim surel dengan mitra warga asli Ethiopia menggunakan SoS.

      Direvisi menjadi: Saya bahkan bisa berkirim surel dalam Bahasa Indonesia kepada mitra yang warga asli Ethiopia menggunakan SoS.

    6. Mesin dan perangkat lainnya memang sudah lama tidak berfungsi. Tapi masih saya pertahankan, sampai kira-kira 5 tahun lalu ada perusahaan multinasional di Maluku yang memproduksi kit mesin waktu jinjing, mereknya “Re-Play”.

      Mestinya sbb:

      Mesin dan perangkat lainnya memang sudah lama tidak berfungsi, tapi masih saya pertahankan. Kemudian kira-kira 5 tahun lalu ada perusahaan multinasional di Maluku yang memproduksi kit mesin waktu jinjing, mereknya “Re-Play”. Waktu itu saya berpikir, "kenapa tidak kita pasang saja alat itu di Pug uzur itu".

  17. Mar 2018
    1. Para Keiretsu atau Konglomerasi Jepang model Tokai, Mitsubishi, Mitsui, Sumitomo, dll ini lah yang melakukan riset di perusahaannya dengan dana tak terbatas. Lalu perusahaan-perusahaan mereka melahirkan produk yang inovatif dan amat berkualitas.

      Ada sebagian cerita dari FB post ini yang perlu disampaikan ke industri. Jangan hanya ke kami (baca: Perguruan Tinggi).

    2. Baru kalau industri kita sudah mulai kuasai pasar Otomotif Nasional, Elektronika Nasional, Pangan Nasional, Obat-Obatan Kedokteran Tropis Nasional, nah saat itu kita kelimpahan cash flow. Kita bisa bicara tentang lompatan riset inovatif! 

      Nah kalau disampaikan dengan kalimatnya seperti ini, saya setuju. :-)

    3. Riset yang dilakukan fokus di 2 hal dulu yaitu ATM dan TTSB. Lupakan dulu riset inovasi, yah cuma untuk gula-gula aja.  Sudah fokus di ATM dan TTSB aja! Ndak usah gaya-gaya dulu dengan riset inovatif 

      Saya yakin juga riset ATM dan TTSB ini juga terjadi dan selalu berjalan. Tapi apakah perlu menghentikan "gaya" untuk riset inovatif?

    4. Riset inovatif seperti Plasma Nuftah, Nano Teknologi, Reaksi Fusi, AI bahkan mobil listrik merupakan riset lompatan. Ini berbiaya amat tinggi serta butuh kolaborasi tim yang hebat, harus ada enviroment yang layak buat para periset dan harus bisa berlangsung lama dengan pembiayaan tanpa henti. Riset-riset seperti ini bukan riset tambal sulam tapi harus punya grand design yang benar serta harus bisa melibatkan Pemerintah, Universitas/Lembaga Studi dan Industri. Tanpa pelibatan ini maka ndak akan bisa dilakukan.

      Apakah ini salah kami (baca: Perguruan Tinggi) saja?

    5. Jangan kaget jika Phillip Group mau mengeluarkan dana besar-besar untuk membangun High Tech Campus Eindhoven (HTCE) men-support risetnya dengan TU Eindhoven. Jangan kaget riset-riset BMW Group itu dilakukan di TU München dan universitas aliansinya yang jumlahnya puluhan. Jangan kaget riset-riset Airbus itu dilakukan di RWTH Aachen dan universitas aliansinya yang jumlahnya puluhan. Jangan kaget SAP AG Standard Software Market Leader Jerman itu menggelontorkan jutaan euro ke jejaringan SAP University Alliance agar bisa inovasi-inovasi baru yang hasilnya seperti Platform NetWeaver serta yang terbaru Database HANA. Jangan kaget riset-riset industri Swiss itu dilakukan di ETH Zurich.

      Pertanyaan saya sama. Saya yakin kerjasama riset industri dengan Perguruan Tinggi ini ada dan sudah terjadi. Tapi adakah penjelasan kenapa volumenya tidak sebesar contoh? Walaupun dihitung secara proporsional dengan kondisi ekonomi Indonesia.

      Dan apakah ini salah Perguruan Tinggi?