7 Matching Annotations
  1. Apr 2022
    1. Google Scholar does not disclose the size of its database, but it is widely acknowledged to be the biggest corpus in existence, with close to 400 million articles by one estimate (M. Gusenbauer Scientometrics 118, 177–214; 2019).

      Google Scholar was estimated to cover 400 million articles in 2019. It's acknowledged to be the largest research corpus, but the company doesn't publicly publish the size of its database.

    2. Besides published articles, Google Scholar might also pick up preprints as well as “low-quality theses and dissertations”, Tay says. Even so, “you get some gems you might not have seen”, he says. (Scopus, a competing literature database maintained by the Amsterdam-based publisher Elsevier, began incorporating preprints earlier this year, a spokesperson says. But it does not index theses and dissertations. “There will be titles that do not meet the Scopus standards but are covered by Google Scholar,” he says.)

      Scopus primarily covers regularly published journals with ISSN numbers and began including preprints in 2021, while Google Scholar has a broader net that also includes theses, dissertations, preprints, and books.

    3. Aaron Tay, a librarian at Singapore Management University who studies academic search tools, gets literature recommendations from both Twitter and Google Scholar, and finds that the latter often highlights the same articles as his human colleagues, albeit a few days later. Google Scholar “is almost always on target”, he says.

      Anecdotal evidence indicates that manual human curation as evinced by Twitter front runs Google Scholar by a few days.

  2. Jan 2019
    1. Sebaiknya, Kementerian Ristekdikti tidak hanya menjadikan kuantitas publikasi dan skor H-index Scopus sebagai tolak ukur keberhasilan program penelitian dan publikasi internasional. Kualitas artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal internasional bereputasi lebih bermakna. Untuk rekan sejawat dosen Indonesia, alangkah baiknya kita berlomba meningkatkan kualitas hasil penelitian dan publikasi ilmiah. Rentang waktu yang agak lama ketika proses revisi naskah ilmiah oleh para reviewer mari kita sikapi sebagai proses peningkatan kualitas saintifik kita.

      Saya masih setuju sampai sini. Untuk paragraf kedua, di sinilah peran preprint (atau versi pra cetak). Silahkan kirim ke jurnal manapun, tapi jangan lupa anda juga punya hak untuk mempublikasikannya seawal mungkin, tanpa ada batasan peninjauan sejawat. Manfaatkan hak itu.

      Aktivitas mengunggah preprint atau dokumen apapun ke media yang diindeks oleh mesin pencari (misal Google Scholar) akan menyebabkan seolah karya anda membengkak. Jangan khawatir. Kalau memang kegiatan anda banyak, ya wajar banyak dokumen yang dihasilkan. Mesin pencari atau pengindeks tugasnya menemukan dokumen itu saat kawan atau kolega anda mencari informasi. Itu saja tugas. Ia tidak bertugas memberikan skor atau nilai kepada dokumen anda. Jadi untuk apa memprotes seseorang yang terlalu banyak mengunggah dokumen daring. Lebih baik instrumen pengindeksnya saja yang dimatikan. Toh bukan itu tujuannya dibuat awalnya.

  3. Jun 2018
    1. The mean proportional difference in the citation frequency between Scopus and Google Scholar was 14.71%

      Apakah perbedaan ini tergolong kecil atau tidak signifikan? Bila hasil ini konsisten pada berbagai kasus, apakah kemudian untuk alasan ekonomis, cukupkah bagi kita di masa mendatang untuk kemudian mendasarkan diri ke GS saja?

    2. Citation performance of Indonesian scholarly journals indexed in Scopus from Scopus and Google Scholar

      Salam dan terima kasih untuk Tim Penulis.

      Secara umum artikel ini patut dihargai, karena penulis telah meluangkan waktu dan tenaga untuk menuangkan hasil penjaringan informasi sitasi dari Google Scholar (GS) dan Scopus yang telah diagregasi SINTA.

      Artikel ini bersifat deskriptif, yang mana artikel jenis ini sering terlupakan, padahal fakta-fakta menarik akan muncul setelah data dan grafik terpampang rapih dalam bentuk artikel. Semoga artikel ini dapat menggugah banyak pendapat yang bersifat argumentatif yang kemudian dapat melahirkan artikel-artikel baru.

      Perkenankan saya meninggalkan beberapa catatan untuk artikel ibu dan bapak ini.

  4. Jun 2015
    1. Inclusion Guidelines for Webmasters

      This documentation describes the technology behind indexing of websites with scholarly articles in Google Scholar. It's written for webmasters who would like their papers included in Google Scholar search results. Detailed technical information is helpful if you're trying to fix an error in indexing of your own website, or you need to make sure that your article hosting product is compatible with Google and Google Scholar search services.